Artikel

GAMBAR KERJA VERSI FACHZEICHNEN VSSM-NORMEN DIGUNAKAN SEBAGAI PANDUAN WSC, ASC, LKS-SMK

Print
Category: Bangunan
Last Updated on Thursday, 04 June 2015 Published Date Written by Budi martono

GAMBAR KERJA VERSI FACHZEICHNEN VSSM-NORMEN DIGUNAKAN SEBAGAI PANDUAN WSC, ASC, LKS-SMK

 Budi Martono

 Abstraksi

Gambar kerja merupakan sebuah rencana teknik sebagai landasan penyelesaian suatu objek. Gambar kerja ini harus mencantumkan informasi yang lengkap, baik secara grafis maupun dengan teks.

Fachzeichnen VSSM-Normen ini dijadikan rujukan gambar secara international khususnya bidang perkayuan (Joinery dan Cabinet Making) dan digunakan sebagai acuan gambar kerja pada World Skills Competition (WSC), Asean Skills Competition (ASC), dan Lomba Kompetensi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (LKS-SMK) tingkat nasional maupun tingkat provinsi.

Dengan mempelajari Fachzeichnen VSSM-Normen sebagai rujukan gambar kerja pada program keahlian Teknik Konstruksi Kayu dan Teknik Furnitur maka guru dan siswa mudah memahami/membaca gambar kerja khususnya soal LKS-SMK pada bidang lomba Joinery dan Cabinet Making.

Kata kunci: Gambar kerja, Fachzeichnen VSSM Normen.

 

I.        PENDAHULUAN

Gambar kerja merupakan sebuah rencana teknik sebagai landasan penyelesaian suatu objek. Gambar kerja ini harus mencantumkan informasi yang lengkap, baik secara grafis maupun dengan teks.

Gambar kerja versi Fachzeichnen VSSM-Normen ini disusun oleh Verbandes Schweizerischer Schreinermeister und Möbelfabrikanten (VSSM) Zürich, Switzerland, yaitu perkumpulan ahli pertukangan kayu dan pabrik mebel di kota Zürich, Swiss.

Fachzeichnen VSSM-Normen ini dijadikan rujukan gambar secara international khususnya bidang perkayuan (Joinery dan Cabinet Making) dan digunakan sebagai acuan gambar kerja pada World Skills Competition (WSC), Asean Skills Competition (ASC), dan Lomba Kompetensi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (LKS-SMK) tingkat nasional maupun tingkat provinsi.

Pada kenyataannya, pedoman gambar kerja secara internasional ini kurang dipahami oleh guru maupun siswa SMK pada program keahlian Teknik Konstruksi Kayu dan Teknik Furnitur, sehingga pada saat LKS-SMK berlangsung maka siswa maupun guru pembimbingnya sering salah persepsi tentang gambar kerja yang digunakan untuk lomba.

 

II.        JENIS PENGGAMBARAN

 

  1. Proyeksi normal
 
 
 

Gambar teknik digunakan untuk menyampaikan informasi tersusun secara visual maupun secara teknik. Hal ini hanya mungkin kalau bahasa gambar mengikuti peraturan yang jelas, baik oleh juru gambar maupun oleh penerima gambar ditafsirkan sama. Untuk berbagai tujuan penggunaan, tersedia jenis penggambaran yang umum pada industri kayu. 

          Gb 2.1. Pada industri kayu, cukup tiga bidang tampak dalam situasi normal

 

Standardisasi internasional menghasilkan peraturan yang jelas dan menimbulkan pengertian yang sama. Proyeksi normal yang lazim di bidang industri kayu didasarkan pada proyeksi paralel sudut siku-siku. Menurut ketentuan ini, benda yang bersudut siku-siku menampilkan 6 bidang tampak.

 

Norma ini tidak mengharuskan keenam bidang tampak digambar semua. Untuk pekerjaan kayu biasanya hanya diperlukan 3 bidang tampak yaitu tampak muka, tampak samping, dan tampak atas (denah). Bidang tampak ini digunakan untuk gambar pemesan dan gambar kerja.

  1.  
    2. Proyeksi paralel

 Dengan bantuan proyeksi paralel, suatu benda dapat ditampilkan dalam 3 dimensi. Jenis penggambaran ini lazimnya terlihat 3 bidang tampak yang digunakan sebagai gambar bantu (lihat gambar 2.2).

Dengan cara ini, dapat dijelaskan hubungan ruang dan konstruksi, yang tidak terlihat pada penampilan proyeksi normal.

 

Pada proyeksi paralel, biasanya diperlukan 3 bidang proyeksi. Ketiganya disusun siku satu dengan yang lain dan bersama-sama membentuk ke depan sebuah sudut ruang terbuka (gb.2.3).

Bidang proyeksi 1 = tampak atas (denah)

Bidang proyeksi 2 = tampak muka

Bidang proyeksi 3 = tampak samping

 

Pada proyeksi paralel sudut siku-siku, garis proyeksi yang berpasangan berjalan paralel dan berdiri tegak lurus terhadap bidang proyeksi yang bersangkutan.

 

 

 

Sisi singgung bidang proyeksi adalah sumbu proyeksi. Sumbu antara bidang 1 dan 2 (tampak atas dan muka) dinamakan sumbu X; sumbu antara bidang 1 dan 3 (tampak atas dan samping) dinamakan sumbu Y; dan sumbu antara bidang 2 dan 3 (muka dan samping) dinamakan sumbu Z (gambar 2.4).

Bila bidang proyeksi 1 diputar 90˚ ke bawah dan bidang proyeksi 3 diputar 90˚ ke kanan, semua bidang berada pada satu permukaan datar. Dengan demikian, tampak depan terletak tegak lurus di atas tampak atas dan tampak samping horisontal di sebelah kanan tampak depan (gambar 2.5).

Tampak samping yang dibuka ke kanan disebut proyeksi kanan, bila dibuka ke kiri disebut proyeksi kiri. Kebanyakan yang dipakai ialah proyeksi kanan. Dalam beberapa hal khusus, proyeksi kiri lebih menguntungkan (gambar 2.6).

 

 

     Gambar 2.6 Proyeksi kiri                              Gambar 2.5 Proyeksi kanan

 

 

 

Pada bentuk yang sulit, jika diperlukan tampak samping, boleh diputar ke kanan dan ke kiri (gambar 2.7)

                                 

Setiap benda dibatasi oleh bidang, setiap bidang dibatasi oleh garis dan setiap garis dibatasi oleh titik. Untuk memproyeksi satu benda, diperlukan titik-titik pembatas proyeksi. Dengan menghubungkan titik-titik tersebut, terbentuklah benda.

Proyeksi titik digunakan, jika harus ditarik garis proyeksi-proyeksi tegak lurus dari titik tersebut ke bidang proyeksi. Titik potong garis proyeksi dan bidang proyeksi menunjukkan proyeksi titik pada bidang.

Titik sudut benda diberi tanda dengan angka. Bila angka berada dalam kurung, berarti titik itu berada di belakang titik yang lain, dengan kata lain tidak terlihat (gb 2.8.s.d.2.10)

 

 

 Gambar 2.9. Proyeksi paralel dengan titik sudut          Gambar 2.10. Proyeksi dgn titik sudut

 

  1. Bidang potongan

Pada pandangan normal, hanya bentuk luar yang terlihat. Bila susunan konstruksi harus diperlihatkan, diperlukan potongan yang sesuai. Sebuah potongan adalah gambaran suatu benda yang seakan-akan dipotong. Pada bidang potongan, terlihat apa yang terdapat pada permukaan tersebut atau di belakangnya (gambar 2.11 dan 2.12).

 

 

 

Gb. 2.11. Potongan vertikal     yang dibayangkan

 

 

Gb. 2.12. Potongan vertikal   yang telah digambar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Potongan ini biasanya terletak paralel terhadap bidang gambar dan karenanya mempunyai hubungan langsung dengan bidang proyeksi.

 

·   Potongan horisontal adalah potongan mendatar melalui benda, yang dengan demikian terletak paralel di atas bidang proyeksi 1 (tampak atas). Biasanya dilihat dari atas.

·       Potongan frontal adalah potongan tegak lurus melalui benda; bidang potongan paralel terhadap tampak muka, yaitu melalui bidang proyeksi 2.

 ·        Potongan vertikal juga merupakan potongan tegak lurus terhadap benda. Bidang atau permukaan potongan siku-siku terhadap tampak muka; dengan demikian juga terhadap tampak samping, jadi terhadap bidang proyeksi 3. Pada proyeksi kanan, arah pandangan dari sebelah kiri; pada proyeksi kiri, arah pandangan dari sebelah kanan.

Gb. 2.13. Penamaan bidang potongan

 

4.    Penamaan bidang potongan

Bidang potongan menandai posisi tempat benda tersebut dipotong. Arah potongan setiap bidang potongan diberi tanda sendiri-sendiri dengan tanda anak panah tegak lurus terhadap bidang potongan. Setiap bidang potongan ditandai dengan huruf besar, mulai dari A-A (gambar 2.13).

 

Gb. 2.14. Penggambaran bidang potongan

Urutan penandaannya adalah sebagai berikut:

(1) Potongan horisontal dari atas ke bawah

 

(2) Potongan vertikal dari kiri ke kanan

 

(3) Potongan frontal                                                    

 

  1. Penggambaran bidang potongan

 

 

Gambar. 2.15. Garis Q

Bidang potongan untuk potongan horisontal dan vertikal digambar pada tampak depan. Untuk potongan frontal, biasanya digambar pada potongan horisontal; bila diperlukan dapat juga digambar pada potongan vertikal. Bidang potongan ditandai dengan garis-titik-garis, akan tetapi, tanda itu tidak dibuat menyeluruh (gambar 2.14).

  1. Garis Q

Benda kerja dengan garis bentuk yang tidak beraturan diberi ukuran dengan bantuan garis Q. Bagian di atas garis Q harus digambar dalam besar sebenarnya.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pemotongan / pemendekan

 

 

Gb. 2.16. Pemotongan dan pemendekan gambar

Potongan benda kerja yang berukuran panjang hanya digambar dalam usaha memberikan informasi baru. Sudah cukup apabila hanya unsur-unsur konstruksi yang perlu yang digambar. Bagian-bagian yang kurang penting dapat diabaikan. Dengan demikian benda kerja diperpendek. Bagian potongan yang tersisa digeser merapat sehingga seluruh gambar detail diperpendek (gambar 2.16).

 

 

 

 

 

 

 

Gb. 2.17. Bidang potongan gambar kerja

Tukang kayu menggunakan cara ini, terutama pada penyusunan gambar kerja dengan skala 1:1. Dengan cara ini, benda-benda berukuran besar pun dapat digambar di atas format kertas gambar yang sesuai. Agar pandangan pada proporsi-proporsi penting dari benda kerja dapat terjamin, bagian tersebut perlu digambar secara keseluruhan dalam skala yang lebih kecil (biasanya 1:10) lengkap dengan ukurannya.   

  1. Bidang potongan pada gambar kerja

 

Pada gambar kerja, benda kerja digambar penuh dengan skala 1:10. Untuk itu, potongan horisontal dan potongan vertikal digambar sebagai penampang.

Penampang frontal hanya digambar sebagian pada tampak muka. Bagian yang terpotong pada gambar tangan diarsir abu-abu dengan pensil (gambar 2.17).

 

  1. Gb. 2.18. Pintu kamar dengan kosen papan

    Pintu kamar dengan kosen papan

Pada pintu kamar dengan kosen papan, digambar potongan horisontal, vertikal, dan potongan frontal (gambar 2.18).

Pada pesanan dengan berbagai daun pintu yang berbeda-beda, biasanya cukup bila potongan frontal digambar satu kali.

 

  1. Gambar kerja

Dari bagian tampak dan potongan gambar skala 1:10, hanya struktur pokok yang terlihat. Detail konstruksi pada skala ini tidak terlihat. Untuk pengerjaan dan rakitan konstruksi, detail-detail penting pada potongan detail harus digambar dalam skala 1:1.

 

 

Gb. 2.19. Gambar kerja dan detailnya

Bagian-bagian yang digambar dalam skala 1:1, pada penampang potongan 1:10 diberi tanda lingkaran (gambar 2.19)

 

 

 

 

 

 

                                     

 

 

 

 

 

 

 

Penampang detail berskala 1:1 disusun seperti pada susunan penampang skala 1:10. Penampang horisontal terletak di bawah penampang frontal; penampang vertikal terletak di sebelah kanan di samping penampang frontal. Penandaan (A-A, B-B, C-C) sama seperti pada gambar potongan gambar kerja kecil (gb. 2.19).

 

III.        PEMBERIAN UKURAN

 1.  Peraturan umum

Gb. 3.1. Garis ukuran

 Gb. 3.2. Garis ukuran dan garis bantu ukuran, pembatasan garis ukuran

 

Untuk pembuatan garis pada pemberian   pengukuran, digunakan garis tipis 0,25 mm.

 a.  Garis ukuran

Garis ukuran dapat digambar di antara sisi benda yang tergambar atau di antara garis bantu ukuran. Garis ukuran ini umumnya tegak lurus terhadap sisi benda bersangkutan (gambar 3.1).

Garis ukuran harus diletakkan terpisah agak jauh dari sisi benda (± 10-15 mm) agar penggambaran tetap kelihatan dengan jelas. Pada gambar keseluruhan, bidang potongan harus diperhatikan. Garis ukuran di sini selanjutnya selalu digambar di luar. Garis ukuran yang paralel hendaknya memiliki jarak cukup besar(7-10 mm).

 b.    Garis bantu ukuran

Garis bantu ukuran dimulai dari setiap sisi benda. Garis bantu ukuran ini dapat mudah diturunkan/dipindah sehingga gambar tetap bisa mudah dibaca. Umumnya garis bantu ukuran ini tegak lurus pada garis ukuran dan diberi tambahan kelebihan ± 2-5 mm dari garis ukuran. Garis bantu ukuran sedapat mungkin tidak terpotong.

 c.    Pembatasan garis ukuran

 

Gb.3.3. Pembatas garis ukuran pada pemberian ukuran sudut dan busur

Akhir garis ukuran ditandai dengan garis miring sepanjang ± 4 mm. Garis ini dibuat miring 45˚ dari atas ke bawah, ditarik pada garis ukuran.Sebagai pembatas garis ukuran radius yang berakhir pada lengkung lingkaran dan ukuran sudut, digunakan anak panah. Anak panah digunakan juga pada ukuran tambahan. Titik pusat ditandai dengan lingkaran kecil (gambar 3.3).

 

 

                                                                                                                         

 

d.    Garis petunjuk

 

Gb. 3.4. Garis petunjuk

Garis petunjuk ditarik miring agak menjauh dari gambar.

Garis ini berakhir:

 

·     dengan suatu anak panah pada sisi benda;

·  dengan satu titik pada permukaan bidang benda;

·       tanda pembatas pada semua garis yang lain (misalnya garis ukuran, garis tengah).

 e.    Bilangan ukuran

Gb. 3.5. Bilangan ukuran

 

Bilangan ukuran diletakkan pada jarak setengah besar bilangan di atas pertengahan garis ukuran sehingga mudah dibaca dari bawah atau kanan. Kalau tempat tidak mencukupi, boleh disusun ke atas atau ke kanan di luar batas garis ukuran.

 

 

Gb. 3.6. Bilangan ukuran

Besar angka sebaiknya tidak lebih kecil dari 3,5 mm. Ukuran kira-kira dapat ditandai dengan ± (misalnya tinggi ruang secara kasar = 2550).

Angka yang tertera di bawah garis ukuran, ukuran tinggi pada ukuran lebarnya, misalnya SA ambang sampai SB ambang pintu (gb. 3.6)

 

f.      Satuan ukuran

 

Sebagai satuan ukuran panjang dipilih mm. Satuan ukuran hanya dicantumkan bila bukan mm. Untuk semua ukuran yang lain, satuannya harus dicantumkan (misalnya sudut = ˚, berat = kg).

 

 

Gb. 3.7. Pengukuran panjang

Sudut biasanya ditulis dengan ˚. Di samping itu, ada satuan sudut Neugrad (Gon) atau ukuran busur: 1 lingkaran dibagi 360˚ = 400 Gon = 2π (radiant).

g.    Pengukuran panjang

 

Pada ukuran panjang yang berurutan, selalu dicantumkan ukuran keseluruhan pada garis ukuran terluar. Dengan demikian, pada garis ukuran yang terletak paralel, akan tercantum ukuran kecil di sebelah dalam dan ukuran keseluruhan pada bagian luar.

 

h.   

Kemiringan 45˚

 

Gb. 3.8. Pemberian ukuran pada sudut

 

Gb. 3.9. Pengukuran sisi miring

Pemberian ukuran pada sudut

Gambar 3.8. menunjukkan cara pemberian ukuran sudut. Satuan ukuran sudut pada umumnya derajad (˚).

 

 

 

 

Gb. 3.10. Pemberian ukuran derajad dan lingkaran miring

Sisi miring ditandai seperti pada gambar 3.9. (misal miring 45˚).

i.      Pemberian ukuran radius

 

Bagian-bagian yang lengkung diberi ukuran dari titik pusat dengan anak panah ke arah garis lingkaran. Garis ukuran tidak harus sampai pada titik pusat lingkaran. Pada lengkungan kecil, anak panah ukuran ditempatkan pada bagian luar (gb. 3.10).

 

Lingkaran-lingkaran kecil, misalnya lubang bor, dapat digambar tanpa garis ukuran, tetapi langsung ditandai ø (misalnya ø 10 cm).

 

j.      Ukuran tambahan/ukuran dalam kurung

 

Ukuran yang ditulis dalam kurung adalah ukuran yang lebih kecil atau lebih besar ditinjau dari ukuran yang utama, misalnya papan belakang yang masuk sponing, papan dasar laci, panel pintu rangka, dengan pen atau lis penutup dengan tambahan.

 

 

 

 

Gb. 3.11. Ukuran tambahan/ukuran dalam kurung

Bila pada satu bagian terdapat lebih dari satu ukuran dalam kurung (seperti pada gambar 3.11. lebar isian dan panjang ambang dengan pen), ukurannya harus dicantumkan.

k.    Pemakaian titik nol (zero point)

 

 

Gb. 3.12. Pengukuran dengan titik nol

Bagian-bagian yang terletak bersusun, misalnya peluncur atau papan letak mati, dapat diberi ukuran dengan pemakaian titik nol (zero point). Untuk itu, ditentukan titik nol, misalnya sisi dalam dasar almari, papan letak berkaki. Dari titik nol itu ke atasnya ditempatkan ukuran seluruhnya dengan tanda (+) untuk pengukuran bertingkat (gambar 3.12).           

 

Gb. 3.13. Pemberian ukuran dengan toleransi untuk produksi seri

 

l.      Toleransi

 

Toleransi ukuran digunakan pada produksi seri. Ukuran toleransi dicantumkan di belakang bilangan ukuran dengan tanda (+), (-), atau (±) seperti gambar 3.13.

 

m.  Bagian isian yang harus tepat

 

 

Gb. 3.14. Bagian isian,  pengukuran pada produksi satuan

Bila pada gambar produksi satuan bagian isian ini (misalnya peluncur laci atau papan belakang yang masuk alur) harus digambar bersama, maka dapat dicantumkan satu ukuran bersama. Celah antara diberikan pada saat produksi.

Pada gambar-gambar untuk produksi seri, ukuran bagian yang diisikan ini, biasanya ditentukan berbagai ukuran. Artinya, speling yang diperlukan diberi ukuran (gambar 3.14).

Speling rambut pada pintu, papan muka laci tidak digambar. Biasanya, speling selebar 1 mm ke atas harus digambar dan diberi ukuran.

 

2.    Peraturan pemberian ukuran

Gambar kerja adalah bagian penting dari petunjuk kerja. Ukuran dan keterangan yang tercantum harus diikuti dalam produksi.

Pemberian ukuran yang tepat dan jelas sangat penting. Untuk mencapai hal tersebut, ikuti peraturan berikut ini:

 

·         Benda kerja dan ukuran pengerjaan yang sejenis harus tampak dengan jelas pada gambar.

 

·         Hanya ukuran yang penting untuk pengerjaan, dan penting juga fungsinya, harus dicantumkan.

 

·         Setiap ukuran biasanya hanya dicantumkan satu kali dalam gambar.

 

·         Ukuran yang berhubungan digambar bersama-sama (misalnya pengeboran dan kedalaman pengeboran ø 6 x 12).

 

3.    Penempatan ukuran

 

a.      Gambar keseluruhan (1:10; 1:20)

 

Pada gambar kerja yang diperkecil (dengan skala), ukuran semua bagian (yang besar) harus dicantumkan, kecuali kalau dimensinya terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan jelas, misalnya tebal sponing papan belakang atau garis tengah lis-lis dan profil. Ukuran bagian-bagian itu dicantumkan dalam gambar detail. Perhatikan terutama beberapa keterangan berikut:

 

Ukuran luar (apa yang kita lihat dari luar) hendaknya ditampilkan pada ketiga potongan (horisontal, frontal, dan vertikal) di luar objek yang digambar.

 

Ukuran dalam (hanya yang dapat dilihat dari dalam) hendaknya dicantumkan di dalam gambar potongan. Untuk kejelasan, sedapat mungkin jangan menarik garis ukuran dalam ke luar hingga melewati sisi benda yang lain (gambar 3.15). Untuk objek yang terdiri dari beberapa perabot atau beberapa bagian satuan, cantumkan ukuran luar keseluruhan.

 

Untuk perabot yang dimatikan (ditanam) dalam tembok, situasi ruang yang bersangkutan harus juga diberikan ukurannya jika ada pengaruhnya pada perakitan atau fungsinya (lebar dan dalam relung, tinggi ruang, lebar gang). Penulisan ukuran paling tepat dilakukan pada tempat ukuran tersebut secara keseluruhan bisa terbaca.

 

Garis ukuran harus berada pada tempat benda terpotong, misalnya:

 

Sisi tinggi                               pada potongan depan

 

Sisi dalam                             pada potongan horisontal

 

Panjang papan dasar         pada potongan frontal

 

Kedalaman papan dasar    pada potongan vertikal

 

 

 

 

Gb. 3.15. Ukuran luar dan ukuran dalam

 

Gb. 3.16. Ukuran tidak boleh lewat sisi benda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.    Penampang detail

 

 

Gb. 3.17. Pemberian ukuran dalam detail

Dalam penampang detail, terutama dicantumkan ukuran pengerjaan, juga ukuran kecil yang pada gambar kerja yang dikecilkan tidak dapat dicantumkan, misalnya tebal sponing untuk dinding belakang almari atau ukuran lis-lis kecil dan profil.

Untuk menjamin ketepatan pekerjaan cantumkan semua ukuran pengerjaan. Sponing, profil, alur, dan pengeboran harus diberi ukuran (gambar 3.16).

 

 

Gb. 3.18. Ukuran dg tulisan dan petunjuk

Ukuran untuk segi empat yang kecil seperti potongan melintang lis atau profil dapat dicantumkan pada bidang potongan melintang atau ditulis dengan tambahan garis bantu miring yang ditarik keluar (misalnya 8/10). Angka ukuran di depan garis miring sesuai dengan arah penulisan ukuran (gambar 3.18).

IV.        SIMBOL

 1. Tujuan simbol dan arsir

 

Simbol gambar dan arsir hendaknya menonjolkan penampang/potongan dari gambar tampak. Selanjutnya, keduanya sebaiknya mengungkapkan tentang jenis material (kelompok material), pembuatan konstruksi, dan pemasangan masing-masing. Simbol dan arsir hendaknya juga memberikan petunjuk penting tentang pengerjaan dan perakitan.

 

Arsir dapat disempurnakan melalui singkatan nama atau jenis bahan, simbol (misal arah serat), atau petunjuk pengerjaan, sejauh hal ini penting untuk pengerjaan atau fungsi.

 

  1. Bahan kerja

 

Untuk pengarsiran digunakan garis penuh tipis (0,25 mm). Arsir ini dapat digambar dengan tangan bebas (tanpa penggaris).

 

1) Ikhtisar

 

 

Arsir tangan

Bahan

Arsir AutoCAD

 

Gb. 4.1. Pengarsiran dengan tangan dan dangan AutoCAD

 

Kayu masif memanjang

 

 

 

Kayu masif melintang (kepala kayu)

 

 

 

Lembaran kayu

 

 

 

Kaca, cermin, bahan dari mineral yang dipadatkan

Lapisan isolasi

 

 

2) Kayu masif

 

 

Gambar 4.3.

Cara mengarsir pd kepala kayu

 

Gambar 4.2. Cara mengarsir pada potongan kayu masif arah memanjang

Pengarsiran kayu masif diambil dari pola serat kayu. Kayu yang dibelah memanjang diarsir memanjang atau paralel dengan arah serat.

Kepala kayu diarsir miring dengan sudut ± 45˚. Pada bidang yang terletak berdampingan, arah arsir diubah. Beberapa potongan melintang benda kerja yang sama, misalnya pada pemotongan, diarsir dengan arah yang sama. Bidang potongan yang kecil diarsir lebih sempit.

 

3) Lembaran bahan kayu

 

Yang dimaksud dengan lembar bahan kayu adalah papan kawul, papan serat, multipleks, blockboard, lembaran berlapis 3 atau lebih.

 

 

Gambar 4.5. Lembaran yang dilapis finir atau bahan lain

 

Gambar 4.4.

Cara mengarsir lembaran

 

Gambar 4.6.

Lembaran yang sudah dilapis

Bahan lembaran diarsir tegak lurus terhadap arah panjang (diambil dari penggambaran skematis blockboard). Jarak arsir dibuat kira-kira ½ dari tebal lembaran.

Pada lembaran berlapis, pelapisnya (finir, formika, lapisan folio, dll.) digambar dengan garis pendamping pada sisi dalam yang berjarak kira-kira 1 mm dari permukaan potongan.

 

Untuk lebih memperjelas gambar, arsir dapat dilengkapi dengan keterangan lain. Hal ini dapat terjadi, misalnya, pada gambar-gambar satuan untuk produksi seri atau pada penggunaan beberapa bahan yang berbeda.

 

 

Tri 4

 

Gambar 4.9. Particle board yang difinir, sisi tebal dipasang sesudah difinir, dipotong searah serat kayu

 

Gambar 4.8. Lembaran yang dilapis satu 4 sisinya dengan keterangan, lembaran apa, bahan yang dilapis, kedudukannya dan ukuran tebal.

 

Gambar 4.10. Lembaran yang difinir sisi tebal, sisi tebal difinir lagi melintang

 

Gambar 4.7.

Lembaran yang dilapis satu sisi

Singkatan bahan pada praktiknya menggunakan singkatan yang sesuai dengan produk bahan yang digunakan, sama dengan singkatan pada data material.

Pada lembaran yang berlapis atau pada bagian yang telah dilapis seluruh permukaannya, maka letak lapisan dapat digambar melalui garis yang bersangkutan, di atas dan di bawah, sedang pada lembaran yang berpelapis 4 sisinya dibuat mengitari singkatan.

 

Pada bagian tengah block-board ataupun pada pemfiniran, arah serat bagian yang terpotong dinyatakan dengan sebuah simbol, bila tidak sesuai dengan arah panjang benda. Arah panjang ini digambar dengan anak panah (→), sedangkan arah melintang atau kepala kayu digambarkan dengan tanda silang (x).

 

  1. Sambungan

 

Sambungan hanya digambar terpotong (misalnya isian atau alur dan lidah). Selain itu garis bentuk digambar sebagai garis potong dan garis sumbu atau sumbu pengeboran dengan garis-titik-garis. Agar sambungan dapat terlihat jelas, simbol-simbol digambar lebih tebal (0,35 mm) daripada arsir bahan (0,25 mm).

 

 

Gambar 4.11. Pen bulat

1) Pen bulat

Penggambaran disederhanakan dengan pernyataan garis tengah dengan bantuan titik-garis, pembatas lubang bor dan speling dengan garis penuh, keterangan tentang diameter dan – bila perlu – panjang pen bulat dan kedalaman pengeboran.

 

 

Gambar 4.13. Sambungan lem

 

B

 

Gambar 4.12. Isian

 

Gambar 4.14. Sambungan pen

2) Isian

Alur dengan isian dan speling digambar. Gesekan isian tidak perlu digambar. Tanda jenis isian dan lebar x tebal dalam mm.

 

3) Pengeleman, sambungan lem

 

Simbol terdiri atas 4 garis pendek, siku-siku terhadap sambungan sela lem. Simbol lem hanya digambar, bila pada perakitan tidak digunakan bahan penyambung lain (pen bulat, lamello, dsbnya) atau diperlukan keterangan khusus. Bila perlu dapat dicantumkan jenis bahan perekat, begitu pula keterangan B atau P untuk pengeleman di bengkel atau di tempat pembangunan.

 

4) Pen

 

Pen tidak digambar terpotong. Penggambarannya terjadi pada pandangan muka atau pada potongan dengan garis putus-putus.

 

 

Gambar  4.15. Ekor burung memanjang

5) Ekor burung memanjang

Alur ekor burung dan ekor burung memanjang termasuk speling digambar dengan garis penuh.

 

 

 

 

Gambar 4.16. Paku, sekrup, kelam

6) Sekrup, paku, kelam

Sekrup, paku, kelam, digambar disertai keterangan porosnya dengan garis-titik-garis. Pada keterangan, dicantumkan besar dan tipe.

 

 

Gb. 4.17. Sekrup secara skematis

 

Gb. 4.18. Sekrup (skematis)yang disederhanakan

Sekrup dapat digambar skematis seperti gambar 4.17. atau disederhanakan dengan memberi keterangan garis poros seperti gambar 4.18. dengan garis-titik-garis. Pada penggambaran yang disederhanakan, keterangan tentang besar dan tipe sekrup mutlak perlu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                          

 

        

 

 

Gb. 4.19. Alat penghubung dg tembok (fisher)

7) Perakitan pada tembok (alat penghubung dgn tembok)

Penggambaran terjadi dengan menunjukkan poros, dengan garis-titik-garis sebagai simbol untuk fisher serta sekrup.

 

 

 

  1. Kelengkapan

 

1) Umum                                                                        

 

Cantumkan semua petunjuk untuk produksi yang penting (pengeboran, pengefraisan, pembuatan sponing). Penggambaran kelengkapan dapat ditiadakan, bila gambar dengan keterangan tertulis atau singkatan yang jelas.

 

Bila mempengaruhi sebuah fungsi, kelengkapan itu disederhanakan dengan penggambaran bentuk dasarnya. Potongan hendaknya diadakan di depan, atau di atas kelengkapan, atau tempat yang dapat memberi keterangan. Kelengkapan itu sendiri sedapat mungkin jangan digambar terpotong. Bagian yang masuk dalam kayu digambar dengan garis putus-putus, sedangkan bagian yang terlihat digambar sesuai dengan bentuknya.

 

 

Gb. 4.20. Engsel sendok

 

Gb. 4.21. Engsel perabot

 

Gb. 4.22. Skarnir piano

2) Engsel dan skarnir

Titik putarnya ditandai dengan sebuah silang poros, kecuali yang memiliki beberapa titik putar seperti engsel sendok (gambar 4.20). Letak pengeboran atau sekrup penghubung ditandai dengan poros tengah. Skarnir piano digambar terpotong, karena meliputi seluruh panjang.Pada beberapa hal tertentu, gambar untuk perakitan atau fungsi bagian bangunan bisa diperjelas bila pintu digambar terbuka dengan garis putus-putus.

 

 

 

 

Gb. 4.23. Kunci espanyolet dengan siku penahan

 

Gb. 4.24. kunci tanam pada pintu kamar

3) Pengunci

Kunci tempel dan kunci espanyolet biasanya tidak digambar. Di sini hanya diperlukan keterangan ukuran diameter kunci.

 

Pada kunci tanam, bagian yang masuk dalam kayu digambar dengan garis putus-putus. Ukuran tinggi kunci diberikan melalui garis-titik-garis. Tinggi kunci biasanya dicantumkan pada tampak muka gambar kerja yang diperkecil.

 

 

 

V.        KESIMPULAN

 

Sebuah rencana teknik sebagai landasan penyelesaian suatu objek memerlukan gambar kerja yang mencantumkan informasi lengkap, baik secara grafis maupun dengan teks.

 

Gambar kerja secara international khususnya bidang perkayuan (Joinery dan Cabinet Making) yang digunakan sebagai acuan gambar kerja pada World Skills Competition (WSC), Asean Skills Competition (ASC), dan Lomba Kompetensi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (LKS-SMK) tingkat nasional maupun tingkat provinsi menerapkan rujukan pada Fachzeichnen VSSM-Normen.

 

Dengan mempelajari Fachzeichnen VSSM-Normen sebagai rujukan gambar kerja pada program keahlian Teknik Konstruksi Kayu dan Teknik Furnitur maka guru dan siswa mudah memahami/membaca gambar kerja khususnya soal LKS-SMK pada bidang lomba Joinery dan Cabinet Making.

 

 VI.        GLOSARIUM

Glosarium adalah penjelasan dari istilah dalam bahasa Jerman yang ada pada artikel ini dan disusun berdasarkan urutan keberadaan istilah tersebut dari halaman awal terus berurutan ke halaman akhir.

Draufsicht adalah tampak atas atau denah dari objek yang digambar pada proyeksi normal.

Vorderansicht adalah tampak muka dari objek yang digambar pada proyeksi normal.

Seitenansicht von links adalah tampak samping kiri dari objek yang digambar pada proyeksi normal.

Seitenansicht von rechts adalah tampak samping kanan dari objek yang digambar pada proyeksi normal.

Untersicht adalah tampak bawah dari objek yang digambar pada proyeksi normal.

Rückansicht adalah tampak belakang dari objek yang digambar pada proyeksi normal.

Projectionsebene adalah bidang proyeksi untuk sebuah objek yang digambar, yang biasa diberi angka 1, 2, dan 3.

Achse adalah as pada bidang proyeksi, yang biasa diberi huruf X, Y, dan Z.

Klammer adalah kelam yang biasa digunakan sebagai bahan untuk alat sambung konstruksi.

Masslinienbegrenzung adalah batas garis ukuran pada gambar kerja, digunakan garis tipis 0,25 mm.

Masshilfslinie adalah garis bantu ukuran pada gambar kerja, digunakan garis tipis 0,25 mm.

Masslinie adalah garis ukuran pada gambar kerja, digunakan garis tipis 0,25 mm.

Bogenlänge adalah garis ukuran radius pada gambar kerja, digunakan garis tipis 0,25 mm.

Kante gebrochen adalah garis petunjuk sisi tepi terpingul pada gambar kerja, digunakan garis tipis 0,25 mm.

Materialschieber adalah garis petunjuk laci pensil  pada gambar kerja, digunakan garis tipis 0,25 mm.

Stahlschublade adalah petunjuk laci baja pada gambar kerja.

HR-Auszug adalah petunjuk laci map gantung pada gambar kerja.

Wendeachse adalah garis petunjuk as putar pada gambar kerja.

Fase 45˚ adalah garis petunjuk kemiringan 45˚ pada gambar kerja.

Zinken adalah istilah gigi terbuka pada sambungan jari/ekor burung.

Richtig adalah istilah tanda cek betul pada keterangan gambar.

Falsch adalah istilah tanda salah pada keterangan gambar.

Flachrunschraube adalah baut seng tembereng yang digunakan sebagai bahan untuk menyambung konstruksi.

Verbindungschraube adalah sekrup penghubung yang digunakan sebagai bahan untuk menyambung konstruksi.

Dübel adalah dowel/pen bulat yang digunakan sebagai bahan untuk menyambung konstruksi.

Topfband adalah engsel sendok yang digunakan sebagai bahan untuk menggantungkan daun pintu almari.

Kröpfung adalah simbol ukuran lipatan engsel perabot yang digunakan sebagai bahan untuk menggantungkan daun pintu almari.

Espagnoletten-schloss adalah kunci espanyolet yang digunakan sebagai bahan untuk mengunci daun pintu almari.

 

 VII.        REFERENSI

Robert Koch, Willi Müller, Ueli Rüegg, Richard Stähli, Ernst Waber, 1994, Fachzeichnen VSSM-Normen, Zürich: Verband Schweizerischer Schreinermeister und Möbelfabrikanten VSSM.

 

I.Mariana dan Irmina Mariati, Pedoman Gambar Kerja, 1997, diterjemahkan dari buku karya Robert Koch, Willi Müller, Ueli Rüegg, Richard Stähli, Ernst Waber, Fachzeichnen VSSM-Normen, Verband Schweizerischer Schreinermeister und Möbelfabrikanten VSSM, Zürich, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

http://teksturitnmalang2010.blogspot.com/2010/10/pengertian-gambar-gambar-konstruksi.html

  

http://www.hdesignideas.com/2010/07/mengenal-bagian-kusen-pintu-dan-jendela.html

  

http://t-masteropik.blogspot.com/2011/02/batang-batang-konstruksi-kuda-kuda.html

 

 

 

 

 
Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG