PENGGUNAAN PELUMAS MESIN

Print
Category: Otomotif
Last Updated on Friday, 25 April 2014 Published Date Written by sasongko

Penggunaan Pelumas Mesin

By : Sasongko Leksono. Wi Madya Dept. Otomotif P4TK – VEDC Malang

 

Tidak semua pelumas cocok digunakan pada kendaraan. Oleh karena itu penting memilih jenis dan merek pelumas yang tepat untuk menjaga performa dan daya tahan mesin.

 

Salah satu komponen yang terpenting dari kinerja sebuah mesin adalah minyak pelumas atau oli. Minyak pelumas berfungsi mengurangi terjadinya gesekan-gesekan antar komponen yang dapat mengakibatkan kerusakan pada mesin. Selain itu, minyak pelumas sekaligus berfungsi sebagai pelicin yaitu dengan melapisi dua bagian benda yang bergerak/bergesekan, sebagai pembersih yaitu dengan membawa kotoran dari bagian yang dilaluinya, sedangkan sebagai pendingin adalah dengan jalan menyerap panas pada komponen-komponen, dan yang berikutnya adalah memperpanjang usia mesin.

Pada saat mesin bekerja, gesekan terjadi berulang-ulang antar komponen mesin. Hal inilah yang dapat mengakibatkan keausan atau kerusakan pada bagian permukaan komponen tersebut. Minyak pelumas inilah yang kemudian berfungsi membuat permukaan antar komponen menjadi licin, sehingga gesekan langsung antar komponen mesin tersebut dapat dikurangi semaksimal mungkin. Akibat kekurangan minyak pelumas bisa menyebabkan mesin mengalami overheat (panas berlebih) sehingga menyebabkan kerusakan pada bagian-bagian mesin seperti piston, dinding silinder, katup dan mekanismenya, bantalan atau bearing,dsb.

Proses pembakaran di dalam ruang bakar dapat menimbulkan oksidasi sehingga menghadirkan kerak dan korosi pada logam. Di sinilah, oli berfungsi untuk membersihkan bagian-bagian mesin dari oksidasi dan mencegah terjadinya karat di dalam mesin. Namun, tidak semua jenis pelumas cocok digunakan pada kendaraan. Sebab, tiap-tiap pelumas memiliki data dan spesifikasi yang berbeda-beda. Salah memilih dan memakai oli bisa mengganggu performa dan daya tahan mesin. Saat ini, jumlah dan jenis pelumas yang beredar di pasaran mencapai ratusan merek dan jenis. Baik lokal maupun impor. Misalnya, Fastron, Meditran, PrimaXP, Evalube, Castrol, Power1, Motul, Top 1, BM1, Fucsh, Agip, Shell, Petronas, Adnoc, Valvoline, Jonge, Eneos.Repsol. Yamalube, dll. Produsen selalu berupaya menggunakan teknologi terkini dalam proses pembuatan minyak pelumas untuk mendapatkan produk yang berkualitas. Pemakaian teknologi terbaru, panjang masa pakainya minyak pelumas, bertambahnya efisiensi kerja mesin, mencapai sertifikasi tertinggi badan pelumas dunia, sampai dengan ramah lingkungan, menjadi propaganda produsen agar produknya laku di pasaran.

Diprediksikan, lebih dari 650 juta liter pelumas per tahun dibutuhkan oleh konsumen Indonesia. Hal ini didasarkan pada jumlah kendaraan bermotor yang setiap tahun terus bertambah. Sayangnya, dengan jumlah penggunaan pelumas yang demikian besar, tidak semua konsumen benar-benar paham mengenai pelumas itu sendiri. Kalaupun mengerti, 'goyangan' iklan dan promosi yang gencar dilakukan produsen, membuat konsumen gampang terpengaruh. Apalagi, semua produsen selalu mengklaim produk merekalah yang terbaik. Akibat tergiur dengan tawaran iklan tersebut, konsumen harus menanggung sendiri segala risiko yang terjadi di kemudian hari terjadi pada kendaraannya. ''Sudah saatnya, konsumen menyadari dan memahami setiap produk yang ditawarkan,'' Untuk itu, mari kita mengenali kandungan mineral yang terdapat pada setiap produk pelumas yang ditawarkan. Berdasarkan bahan bakunya, ada tiga jenis oli yang beredar di pasar, yakni mineral, semi sintetis, dan sintetis. Oli mineral bahan dasarnya adalah minyak bumi yang diolah menjadi minyak pelumas. Jika kemudian hasil olahan tersebut ditambah dengan bahan sintetis lain untuk mencapai standar mutu yang lebih baik, maka produknya disebut pelumas semi sintetis/sintetis blend. Dan untuk kualitas lebih tinggi lagi disebut oli sintetis. Oli Sintetis biasanya terdiri atas Polyalphaolifins yang datang dari bagian terbersih dari pemilahan dari oli mineral, yakni gas. Senyawa ini kemudian dicampur dengan oli mineral. Inilah mengapa oli sintetis bisa dicampur dengan oli mineral dan sebaliknya. Basis yang paling stabil adalah polyol-ester (bukan bahan baju polyester), yang paling sedikit bereaksi bila dicampur dengan bahan lain. Oli sintetis cenderung tidak mengandung bahan karbon reaktif, senyawa yang sangat tidak bagus untuk oli karena cenderung bergabung dengan oksigen sehingga menghasilkan acid (asam). Pada dasarnya, oli sintetis didesain untuk menghasilkan kinerja yang lebih efektif dibandingkan dengan oli mineral.

 

 

Jika kita perhatikan secara seksama, setiap kemasan produk pelumas yang kita beli di pasaran, selalu terdapat data kekentalan (viskositas) dan tingkat mutu/kwalitas oli pada kemasannya. Hal ini dilakukan pabrikan untuk memberitahukan kepada konsumen tentang jenis kekentalan oli yang cocok digunakan pada kendaraan tertentu serta kemampuan mutunya.

 

 Kekentalan oli (viskositas)

 

 Kekentalan oli (viskositas), standarnya diklasifikasikan berdasarkan tingkat kekentalannya. Dalam kemasan oli, biasanya ditemukan kode huruf dan angka yang memperlihatkan hal itu. Contohnya SAE 40, SAE 50, SAE 90, dan seterusnya. SAE adalah singkatan dari Society of Automotive Engineers atau Ikatan Ahli Teknik Otomotif, Angka di belakang huruf SAE menunjukkan tingkat kekentalannya. Saat ini di Indonesia semua oli yang beredar menggunakan Oli Multigrade, Kode angka multi grade seperti 10W-50 merupakan kekentalan yang bisa berubah-ubah sesuai suhu di sekitarnya. Huruf W di belakang angka 10 adalah singkatan Winter (musim dingin). Jadi pelumas tersebut artinya mempunyai tingkat kekentalan yang setara dengan SAE 10 (di udara dingin), tapi ketika udara panas kekentalannya sama dengan SAE 50. Oli multi grade seperti SAE 20W-50 dapat digunakan untuk kondisi yang ekstrim. Oli ini akan cukup encer pada suhu rendah, dan cukup kental pada suhu tinggi. Makin tinggi kekentalannya, maka makin besar tahanannya untuk mengalir. Oli yang terlalu encer pada suhu tinggi akan membuat gap antar komponen semakin besar dan mesin akan berbunyi kasar. Sedangkan oli yang terlalu kental akan sulit mengalir terutama saat suhu rendah.

Ada beberapa jenis oli yang cocok digunakan pada kendaraan bermotor, sesuai dengan suhu lingkungannya. Untuk suhu lingkungan yang beriklim dingin dengan suhu minus 18 hingga 0º C, maka pelumas yang cocok digunakan adalah 5W-20, 5W-30, 10W-30 dan 10W-40. Dan untuk suhu seperti di Indonesia yang beriklim tropis dimana suhu udara berkisar antara 20 sampai dengan 35º C, maka tingkat kekentalan oli yang cocok digunakan adalah 15W-40, 15W-30, 15W-40, 15W-50 atau 20W-30, 20W-40, 20W-50. Tingkat kekentalan pelumas berdasarkan standar internasional meliputi tiga hal, yaitu viskositas, indeks viskositas dan titik tuang. Viskositas merupakan ukuran besar hambatan sebuah fluida (pelumas) untuk dapat mengalir. Penentuan kekentalan pelumas yang sesuai dengan karakter mesin yang kita miliki biasanya telah direkomendasikan oleh produsen kendaraan. Sebab, kekentalannya akan sangat berhubungan erat dengan spesifikasi mesin dan kondisi operasi mesin seperti kecepatan, beban dan temperatur. Sementara itu, indeks viskositas merupakan suatu ukuran perubahan viskositas terhadap temperatur. Viskositas pelumas akan turun jika temperatur naik, dan sebaliknya. Namun, perubahan ini tidak akan sama untuk semua pelumas. Sedangkan untuk titik tuang merupakan temperatur terendah agar pelumas mengalir. Pelumas sintetik pada umumnya mempunyai titik tuang yang rendah dibandingkan dengan pelumas jenis mineral maupun semi-sintetik/sintetik blend. Sehingga daerah operasi pelumas sintetik lebih luas, mulai dari daerah yang paling dingin didalam mesin hingga yang paling panas.

 

 Mutu Oli (kwalitas)

 

     Mengenai mutu oli, klasifikasinya ditentukan oleh API (American Petroleum Institute). Klasifikasi mutu sebuah oli ditandai pada kemasannya dengan kode huruf, biasanya ada dua bagian yang dipisahkan dengan garis miring, misal API Service SG/CD, SH+/CE+, dan sebagainya. Kode dengan huruf S adalah kependekan dari service class (atau spark yang berarti percikan api). Biasanya hal ini menunjukkan spesifikasi pemakaian oli untuk mesin bensin. Sedangkan huruf C adalah kependekan dari commercial class (atau compression karena pembakaran terjadi karena penyalaan diri akibat kompresi yang tinggi). Huruf ini menunjukkan untuk spesifikasi pemakaian oli mesin diesel. Kemudian untuk huruf kedua pada kode adalah tingkatan mutunya sesuai dengan urutan huruf alphabet. Semakin mendekati huruf Z, maka semakin tinggi atau baik mutunya. Istilah lainnya untuk penggunaan huruf kedua setelah kode tersebut, menunjukkan peruntukan bagi kendaraan yang diproduksi pada tahun tertentu. (Lihat tabel). Misalnya, AP service SL, berari oli diperuntukkan bagi kendaraan bermesin bensin produksi tahun 2004 dan sebelumnya

 

Penggunaan pada Mesin Bensin

 

SM Untuk kendaraan yang diproduksi saat ini

SL Kendaran produk 2004 dan sebelumnya

SJ Kendaran produk 2001 dan sebelumnya

SH Kendaran produk 1996 dan sebelumnya

SG Kendaran produk 1993 dan sebelumnya

SF Kendaran produk 1988 dan sebelumnya

SE Kendaran produk di bawah 1979

SD Kendaran produk di bawah 1971

SC Kendaran produk di bawah 1967

SB Kendaran produk di bawah 1963

SA Kendaran produk di bawah 1930

 

 Penggunaan pada Mesin Diesel

 

      CJ-4 Diperkenalkan pada tahun 2006. Untuk mesin high speed, mesin 4-langkah yang didesain untuk memenuhi standar emisi tahun 2007.CI-4 Diesel 4-tak kinerja tinggi, memenuhi standar emisi gas buang 2004, diperkenalkan tahun 2002, untuk menggantikan CD, CE, CF-4. CG-4 dan CH- 4. beberapa produk CI-4 telah memenuhi kualitas CI-4 Plus.CH-4 Keluar 1998, Diesel 4-tak menggunakan Solar dengan belerang diatas 9,5 persen. Dapat untuk menggantikan CD, CE, CF-4 dan CG-4. CG-4 Diperkenalkan 1995, untuk Diesel 4-tak yang memenuhi standar emisi 1994, dapat untuk menggantikan CD, CE dan CF-4, CF-4 Diperkenalkan 1990, untuk Diesel 4-tak berturbocharger. Dapat untuk menggantikan CD dan CE, CF-2 Diperkenalkan 1994, untuk Diesel 2-tak untuk menggantikan CD-II.

 

Penggunaan Buku Manual

 

       Melihat arti penting oli bagi performa dan daya tahan mesin, maka sebelum memilih oli, sebaiknya konsumen terlebih dahulu memahami secara jelas tentang jenis mesin kendaraan, mulai tahun pembuatan, sistem kerja mesin dan lain sebagainya. Untuk ini, cara mudahnya adalah dengan mempelajari buku panduan (manual book) kendaraan yang dikeluarkan oleh pabrikan kendaraan untuk mengetahui jenis pelumas dan karakteristik seperti yang direkomendasikan oleh pabrik. Jika buku petunjuk manual menyarankan si pemakai harus menggunakan pelumas untuk SAE 20W-50, maka jangan membeli oli dengan standar viskositas yang berbeda. Apalagi karena alasan lebih murah dan sebagainya. Sebab kinerja dan karakter mesin memerlukan spesifikasi oli tersendiri. Terpenting dari semua itu, belilah oli yang benar-benar berkualitas, sesuai dengan karakter mesin anda, waspadalah terhadap oli palsu, belilah oli di tempat penjualan atau bengkel resmi.

 

 

Daftar Pustaka

 

Ibrahim, Spuller. 2004. Sistem Pelumasan, Automotive Departement, Vocational Education Development Center Malang Indonesia

Petter, A. Weller. 1989.  Fachkunde Fahrzeugtechnik, Holland+Johenshands Germany.

Robert, 1993.  Automotive Band Book, VDI Verlag Germany. p 108 -184

Rolf, Gscheidle. 1992. Fachkunde Fahrzeugtechnik, Verlag Europa Lehrmittel Nourney,Vollmer Gmbh&Co Germany.

Toyota, 1980. Service Training Information, Toyota Motor Sales CO. LTD, Japan

Wikipedia, (2014). “Oli Mesin”, http://en.wikipedia.org/wiki/Oli mesin. Maret, 5, 2014

 

Copyright 2017. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG