Artikel

ELECTRONIC TRACTION CONTROL (ETC) PADA KENDARAAN

Print
Category: Ototronik
Last Updated on Thursday, 08 December 2016 Published Date Written by mtoyibu

ELECTRONIC TRACTION CONTROL (etc) Pada Kendaraan

Drs. MochToyibu, MT. (WidyaiswaraDepartemenOtotronik PPPPTK BOE Malang)

toyibu.g61@gmail.com

 

ABSTRAK

Pada kendaraan dengan system penggerak roda depan/belakang dimana unjuk kerja dalam bentuk percepatan kendaraan yang besarnya sangat tergantung oleh besarnya gaya penggerak dari mesin dan traksi roda.

Unjuk kerja dalam bentuk percepatan akan diperoleh secara optimal jika memenuhi syarat tidak terjadi slip, laju kendaraan stabil. Dalam kenyataannya di perjalanan terutama saat traksi kecil dan atau terjadi perbedaan traksi pada kedua roda penggerak maka akan terjadi slip pada roda penggerak yang memiliki traksi kecil sehingga terjadi percepatan kecil dan laju kendaraan tidal stabil.

Dalam artikel ini ditunjukkan bagaimana terjadi slip percepatan dan bagaimana sistem ETC bekerja dapat memperbaiki sifat jalan kendaraan pada permukaan jalan kondisi traksi kecil.

 Kata Kunci :Percepatan,Slip, Lock-Brake, ETC (Electronic Traction Control)

 

 

 

A.   PENGERTIAN ETC

Sistem Electronic Traction Control Pada Kendaraan (ETC) adalah suatu pengembangan konsep dari sistem rem ABS pada kendaraan. ABS dengan aktuatornya dapat melaksanakan regulasi tekanan pengereman yang dikendalikan ECU-ABS guna mengkondisikan roda tidak terjadi slip selama pengereman berlangsung, konsep ABS ini dikembangkan dengan penambahan beberapa katup electrohidraulik pada aktuator-ABS dan dikendalikan ECU-ETC tersendiri untuk memperoleh suatu keadaan dimana saat terjadi slip percepatan (Spin) maka ECU-ETC dapat mengakses aktuator untuk melaksanakan pengereman pada roda penggerak yang slip sampai pada batas traksi optimal.

 

B.   MENGAPA TERJADI SPIN ?

Spin adalah suatu kejadian/keadaan pada saat percepatan berlangsung roda berputar sedangkan kendaraan belum bertambah kecepatannya. Keadaan seperti ini terjadi dikarenakan gaya penggerak yang diteruskan keroda penggerak lebih besar dari pada besarnya traksi ban, semakin kecil traksi semakin mudah terjadi spin seperti ditunjukkan dengan ilustrasi pada Gambar 1 berikut untuk menjelaskannya :

 

Gambar 1 : Gaya penggerak dan Traksi

Gaya penggerak ”Fpdidapatkan dari proses kerja motor penggerak kendaraan yang besarnya out-put motor mulai dari torsi rendah ke tinggi diatur sesuai keinginan operatornya (pengemudi) dengan segala sifat pengendaliannya.

Traksi ban ”FTdidapatkan dari proses gesekan antara permkaan jalan dan permukaan ban yang besarnya tergantung dari koefisien gesek antara ban dengan permukaan jalan (µJ) dan berat kendaraan (W) ;

Terjadi spin jika :

 

Sedangkan Traksi relatif tetap yang besarnya :

 

Sehingga pada saat mobil dipercepat dengan power motor melebihi kemampuan traksi maka akan terjadi roda penggerak slip (spin), hal ini akan menyebabkan mobil akan jalan tidak stabil dan lebih ekstrim lagi jika salah satu roda pada kondisi traksi sangat kecil kendaraan tidak bisa bergerak (berjalan).

Contoh :

1.    Pada mobil dengan penggerak roda depan mobil tidak bisa dibelokkan mengikuti radius jalan. (Gambar 2)

 

Gambar 2 : Udersteering pada kendaraan penggerak depan

karena pada roda penggerak terjadi slip, bagian depan kendaraan terpelanting keluar dari radius jalan (understeering)

2.    Pada mobil dengan penggerak roda belakang mobil tidak bisa dibelokkan mengikuti radius jalan. (Gambar  3)

 

Gambar 3 : Oversteering pada kendaraan penggerak belakang

karena pada roda penggerak terjadi slip, bagian belakang kendaraan terpelanting keluar dari radius jalan (Oversteering).

3.    Pada saat kedua roda penggerak pada µsplit (Gambar 4), roda kanan dipermukaan jalan kering µ : 0,9 (µ beasar) dan roda penggerak kiri di permukaan jalan yang basah µ : 0,9 (µ kecil).

 

Gambar 4 : Kendaraan dengan roda penggerak µsplit

Pada saat awal berjalan/ percepatan maka akan terjadi roda kanan diam tidak berputar dan roda kiri berputar slip di permukaannya (spin) akibatnya kendaraan tidak bergerak karena gaya penggerak hanya akan memutar roda yang memiliki µ kecil.

Konsep kerja ETC adalah memperbaiki sifat jalan kendaraan saat percepatan dari ketiga contoh diatas (Gambar 2, 3, 4) dengan beberapa alternatif :

ü  Mengerem roda penggerak yang slip

ü  Menurunkan daya motor

ü  Kombinasi pengereman roda penggerak yang slip dan menurunkan daya motor

 

C.   PRINSIP KERJA ETC

1.    Mengerem roda penggerak yang slip

Situasi : (Gambar 5)

Roda penggerak berdiri diatas jalang yang mempunyai hambatan gesek (m) yang berbeda.

 

Gambar 5 : Putaran roda penggerak µsplit

Masalah :

Deferensial selalu membagi moment penggerak tidak sama besar antara roda kanan dan kiri, karena roda kiri slip maka putaran differensial hanya memutarkan roda yang slip saja → kendaraan tidak bisa jalan.

Perbaikan :

Dengan ETC akan mengerem roda yang slip akibatnya momen differensial menglir juga ke roda kanan sebesar pengereman roda kiri → roda kanan berputar dan kendaraan bisa berjalan. (Gambar 6)

 

Gambar 6 : Putaran roda penggerak µsplit  ETC bekerja

 

Pada saat awal berjalan/ percepatan dengan sistem pengatur momen rem pada m slip.Pada saat roda melebihi batas slip, roda penggerak kanan berputar lebih cepat (slip). Dengan bantuan sensor putaran roda, besar slip diinformasikan ke kontrol unit ETC. Kontrol unit dengan bantuan unit hidraulis memberikan tekanan rem pada roda yang slip. Sehingga pada roda kanan menimbulkan moment pengereman dan defferensial menghasilkan persamaan moment (M kanan = M kiri)

Pada sistem ini traksi dan gaya samping yang optimal dicapai pada kecepatan < 50 kg/jam.

 

Gambar 7 : ETC mengerem roda penggerak

Dengan ETC roda yang slip dapat diperlambat dengan rem roda itu sendiri tanpa menginjak rem, sehingga dicapai slip yang ideal pada kecepatan yang semestinya. Melalui defferensial dipindahkan moment rem yang ada sebagai moment penggerak pada roda yang berlawanan.

Jika momen penggerak terlalu tinggi, ke dua roda direm tetapi lamanya pengereman harus dibatasi supaya rem tidak terlalu panas.

2.    ETC dengan pengatur daya motor (Gambar 6)

Untuk menghindari kerugian gaya dorong ke samping (pada penggerak belakang) atau kemampuan di belokkan (pada penggerak depan) pengaturan sudah harus bekerja jika salah satu roda penggerak slip lebih dari 30 %.

 

Gambar 8 : ETC menurunkan daya motor

Gaya samping optimal pada semua tingkat kecepatan.

Kemungkinan yang diatur pada mesin :

*      Meregulasi daya mesin melalui katup gas dengan motor listrik penggerak katup gas (E gas)

*      Memundurkan saat pengapian (melalui kontrol unit mesin)

*      Mematikan silinder motor (dengan mematikan injektor)

*      Mengurangi tekanan turbo (melalui kontrol unit mesin)

*      Memindahkan gigi yang besar (pada transmisi automatis) elektronik

 

3.    ETC dengan pengaturan kombinasi antara rem dan daya motor.(Gambar 8)

 

Gambar 9 : ETC Pengaturan kombinasi

Pada sistem ini dapat diperoleh traksi dan gaya samping yang optimal pada semua kecepatan

Pada ETC kombinasi terjadi pengaturan pada sistem rem dan moment putar motor. Oleh karena itu keuntungan pada ke dua sistem dapat disatukan.

Prinsip kerja :

Jika salah satu roda berputar bebas (slip) segera sistem rem pada roda itu aktif. Jika roda kedua ikut berputar bebas (slip) segera pula sistem rem pada roda kedua aktif (kedua roda direm) bersamaan dengan itu moment putar roda dikurangi.

Pada kecepatan tinggi yang bekerja hanya ASR dengan pengaturan moment motor

 

D.   CONTOH ; SKEMA BLOK KONTROL UNIT ETC  (MERCEDES ASR2)

 

 

E.   Beberapa penggunaan istilah :

ASR    : Antriebs Schlupf Regelung

LTCS  : Low Speeds Traktion Control Sistem

BSD    : Bremsen Sperv Differential

EDS    : Elektronische Differential Spere

ABD    : Automatisches Bremsen Differential

ETC    : Elektronic Traktion Control

ETS    : Elektronic Traktion Suport

BTC    : Breake Traktion Control

 

 

Daftar pustaka :

1.    Training module ”Rad Bremsen” STF Wintherture Switzerland

2.    BOSCH  Hand Book

3.    Robert BOSCH GmbH, Bremsanlagen fur Kraftfahrzeuge, Stutgart, 1994

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG