Artikel

Sekilas Tentang Busi

Print
Category: Ototronik
Last Updated on Monday, 27 November 2017 Published Date Written by Super User

(Sudaryono – Widyaiswara P4TK BOE Malang)

 

            BUSI (dari bahasa Belanda bougie) adalah suatu suku cadang yang dipasang pada mesin pembakaran dalam dengan ujung elektrode pada ruang bakar. Busi dipasang untuk membakar campuran udara dan bensin yang telah dikompres oleh piston. Percikan busi berupa percikan elektrik. Pada bagian tengah busi terdapat elektrode yang dihubungkan dengan kabel ke koil pengapian (ignition coil) di luar busi, dan dengan ground pada bagian bawah busi, membentuk suatu celah percikan di dalam silinder.

Mesin pembakaran internal dapat dibagi menjadi mesin dengan percikan, yang memerlukan busi yang menghasilkan percikan untuk membakar campuran antara bensin dan udara, dan mesin kompresi (mesin Diesel), yang tanpa percikan, mengkompresi campuran bensin dan udara sampai terjadi penyalaan dengan sendirinya (jadi tidak memerlukan busi).

 

 

CARA KERJA:

Busi tersambung ke tegangan yang besarnya ribuan Volt yang dihasilkan oleh koil pengapian (ignition coil). Tegangan listrik dari koil pengapian menghasilkan beda tegangan antara elektrode di bagian tengah busi dengan yang di bagian samping. Arus tidak dapat mengalir karena bensin dan udara yang ada di celah merupakan isolator, namun semakin besar beda tegangan, struktur gas di antara kedua elektrode tersebut berubah. Pada saat tegangan melebihi kekuatan dielektrik daripada gas yang ada, gas-gas tersebut mengalami proses ionisasi dan yang tadinya bersifat insulator, berubah menjadi konduktor.

Setelah ini terjadi, arus elektron dapat mengalir, dan dengan mengalirnya elektron,

suhu di celah percikan busi naik drastis, sampai 60.000 K. Suhu yang sangat tinggi ini membuat gas yang terionisasi untuk memuai dengan cepat, seperti ledakan kecil. Inilah percikan busi, yang pada prinsipnya mirip dengan halilintar atau petir mini. 

 

 JENIS ATAU TIPE BUSI.

Api dan suhu busi harus bisa mencegah pembakaran dini dan suhu busi juga dituntut tinggi supaya mencegah timbulnya kerak. beberapa produsen busi memproduksi beberapa tipe busi. Sebelum memutuskan untuk mengganti busi motor, kita harus kenali lebih dulu jenis busi berikut ini: 

 

Busi Standar

Bahan ujung elektroda dari nikel dan diameter center electrode rata-rata 2,5 mm. Jarak tempuh busi standar sampai sekitar 20 ribu Km, ketika kondisi pembakaran normal dan tak dipengaruhi oleh faktor lain macam oli mesin dan konsumsi BBM yang berlebihan efek peningkatan spek karbu. Busi ini bawaan motor setiap diluncurkan dari pabrikan.

 

Busi Platinum

Ujung elektroda terbuat dari nikel dan center electrode dari platinum, jadi pengaruh panas ke metal platinum lebih kecil. Diameter center electrode 0,6 mm – 0,8 mm, jarak tempuh busi sekitar 30 ribu km. Busi ini favorit bikers penyuka touring karena kemampuannya.

 

Busi Iridium

Ciri khasnya ujung elektroda terbuat dari nikel dan center electroda dari iridium alloy warna platinum buram. Diameter center electroda 0,6 mm – 0,8 mm mm. Jarak tempuh busi sekitar 50 ribu sampai 70 ribu km. berumur lama cocok buat mesin motor besar diatas 150cc. Bisa dikatakan semi kompetisi, biasa diaplikasi buat mesin non standar 

 

Busi Racing
Busi yang tahan terhadap kompresi tinggi, serta temperatur mesin yang tinggi. Dipersiapkan untuk mampu mengimbangi pemakaian full throttle dan deceleration.

Busi racing tidak sama dengan busi Iridium. Diameter center electroda pun relatif kecil meruncing macam jarum. Jarak tempuh busi juga relatif pendek di 20 ribu – 30 ribu Km, untuk rpm tinggi diatas 6000 pada temperatur mesin yang tinggi.

 

Busi Resistor

Logo R dengan font miring banyak yang mengira artinya racing. sebenarnya R itu artinya resistor. Busi ini dipakai untuk melindungi perangkat elektronik digital, berupa speedometer, indikator pada kendaraan yang memakainya, terhadap pengaruh gelombang radio dan sejenis nya. Maka, busi ber-kode R pada busi mesti diingat, sebagai perlindungan perangkat elektronik digital motor. 

Memilih busi dingin atau busi panas, Ada dua macam busi yaitu busi panas dan busi dingin.

·         Daerah tempat tinggal, Khusus daerah bersuhu dingin, seperti daerah pegunungan dan dataran tinggi, paling pas memakai busi panas. Sebab, pemakaian busi dingin akan mempercepat penumpukan kerak. Sedang, daerah panas macam tepi laut atau metropolis, lebih baik memakai busi dingin. Untuk mencegah terjadinya pre ignition atau pembakaran dini.

·         Perbandingan kompresi dan kapasitas mesin, Makin besar kapasitas mesin, makin tinggi panas yang dikandung. Di sini busi juga menentukan kualitas pembakaran, dengan batasan diatas 150 cc, sebaiknya menggunakan busi tipe dingin. Dan mengingat, motor harian dirancang pabrikan menganut perbandingan kompresi rendah, maka suhu relatif rendah ke panas. kapasitas mesin yang sebaiknya dijadikan acuan.

 

Memilih busi motor yang baik dan bagus yang sesuai dengan mesin motor berdasar pada:

·         Perbandingan kompresi

·         Campuran bahan bakar dan udara

·         Oktan BBM

·         Timing pengapian

·         Suhu daerah sekitar

·         Gaya pemakaian standar atau balap

 

Masalah pada busi

1. Kerak yang banyak di ujung busi, penyebabnya adalah:

- Part pengapian ada yang rusak, Seperti CDI, koil dan cop busi

- Terlalu lama mengendarai motor di RPM rendah

- Bahan bakar dan udara campurannya terlalu gemuk

- Kode busi terlalu dingin 

2. Panas busi berlebihan

- Kode busi terlalu panas

- Setingan udara /bahan-bakar terlalu kering

- Penumpukan kerak di ruang bakar mulai banyak

- Terlalu sering full throtle

 

Jarak gap pada busi dan akibatnya

1. Gap busi terlalu rapat

Kelemahannya pengapian akan kecil tidak sesuai dengan pembakaran, Tapi keuntungannya, busi selalu  memercikan api di setiap peningkatan rpm mesin dengan kurva yang rapat. 

2. Gap busi terlalu renggang

Kelemahannya pengapian pada rpm dan kecepatan tinggi akan kacau, tapi pengapian pada rpm rendah dan menengah pembakarannya lebih sempurna.

 

Kode pada busi

 

W24ES-U (Denso)

W   : Diameter ulir busi (W-14 mm)

24   : Tingkat panas busi, kalau nilainya semakin besar berarti bertipe lebih dingin

E    : Panjang ulir 19 mm

S    : Tipe penggunaan busi S-standar

U    : Konfigurasi gap busi

 

CPR 7HSP-9 (NGK)

C     : Diameter ulir busi (B : 14 mm, C : 1 0mm, D : 12mm)

P     : Type rancangan busi (hanya pabrikan yg tahu kode ini)

R     : Busi dengan resistor di dalamnya (untuk mesin dengan teknology digital menggunakan busi type ini untuk menghindari terjadinya frekuensi yg dapat mengganggu pembacaan sensor digital)

“7″  : Tingkat panas busi. Kalau tambah kecil angkanya 6, 5, 4 disebut busi panas dan sebaliknya tambah besar 8, 9 diklaim sebagai busi dingin

H    : Panjang ulir busi, ada tiga jenis kode huruf yang dipakai. Kalau H = 12,7 mm , E = 19 mm dan L = 11,2 mm

S     : Type elektroda tengah. Kode lain, ada IX artinya bahan iridium dan G menunjukkan tipe busi racing. Kalau P platinum dan S standar.

“9″  : Celah inti elektroda busi, angka 9 artinya celah busi 0,9mm dan kalau 10 celah busi 1 mm

 

Kode elektroda busi

C    : Copper Core Center Elektroda

D    : 2 ground Electroda

P    : Platinum Elektroda

R    : Burn off Resistor

S    : Silver electroda

T    : 3 Ground Elektroda

V    : Wide Gap 1,3 mm

W    : Wide Gap 0,9 mm

X    : Wide Gap 1,1 mm

Y    : Wide Gap 1,5 mm

Z    : Wide Gap 2,0 mm

 

Referensi :

https://105eoc.com/technical/general-technical-information/spark-plugs/

 

//ekodiaz.blogspot.co.id/2012/10/tips-memilih-busi-yang-baik.htmli 

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG