Artikel

PROSEDUR MENGELAS DENGAN MENGGUNAKAN LAS OAW

Print
Category: Tek.Peng.Logam
Last Updated on Thursday, 23 April 2015 Published Date Written by Fandi Dahlan

PROSEDUR MENGELAS DENGAN MENGGUNAKAN LAS OAW

 

Oleh: Fandi Dahlan, S.Pd, MT

(Widyaiswara PPPPTK BOE / VEDC Malang)

Email: fan_rizal@yahoo.com

 

 

 

Abstrak

Pengelasan OAW merupakan pengelasan yang dilakukan dengan membakar gas asetilen dengan oksigen sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu yang dapat mencairkan logam induk dan logam pengisi. Dalam aplikasi, las OAW hasilnya sangat memuaskan untuk pengelasan baja karbon, terutama lembaran logam (sheet metal) dan pipa-pipa berdinding tipis. Bekerja dengan menggunakan las OAW harus sesuai dengan prosedur, agar didapatkan hasil lasan yang baik dan orang yang bekerja dapat selamat serta sehat. Ada 6 (enam) prosedur yang harus dilakukan apabila mengelas dengan menggunakan las OAW.

 

Kata kunci: prosedur mengelas, las OAW.

 

 

            Pengelasan OAW merupakan pengelasan yang dilakukan dengan membakar gas asetilen dengan oksigen sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu yang dapat mencairkan logam induk dan logam pengisi. Selain untuk keperluan pengelasan, las OAW juga dapat digunakan untuk preheating, brazing, cutting, dan hard facing. Serta dapat digunakan untuk produksi (production welding), pekerjaan lapangan (field work), dan reparasi (repair and maintenance).

 

Gambar 1. Bekerja menggunakan las OAW

 

            Dalam aplikasi, las OAW hasilnya sangat memuaskan untuk pengelasan baja karbon, terutama lembaran logam (sheet metal) dan pipa-pipa berdinding tipis. Meskipun demikian, hampir semua jenis logam ferrous dapat dilas dengan las OAW, baik dengan atau tanpa bahan tambah (filler metal). Pada proses pembakaran gas asetilen tersebut diperlukan adanya oksigen. Oksigen ini didapatkan dari udara dimana udara sendiri mengandung oksigen (21%), nitrogen (78%), argon (0,9%), neon, hidrogen, karbondioksida, dan unsur lain yang membentuk gas.

 

Gambar 2. Pipa-pipa berdinding tipis

 

            Bekerja dengan menggunakan las OAW harus sesuai dengan prosedur, agar didapatkan hasil lasan yang baik dan orang yang bekerja dapat selamat serta sehat. Di bawah ini akan diuraikan prosedur mengelas bila menggunakan las OAW.

1.    Periksa sambungan-sambungan selang dan regulator.

Hal ini dilakukan agar pada saat mengelas, tidak ada gas (baik oksigen maupun asetilen) yang terbuang percuma karena adanya kebocoran pada instalasi gas. Dengan adanya kebocoran pada instalasi gas, selain gas akan terbuang percuma, juga dapat membahayakan tukang las dan lingkungan sekitarnya. Kebocoran pada instalasi gas dapat menimbulkan ledakan.

 

Gambar 3. Sambungan-sambungan pada selang dan regulator

 

2.    Pilih nomor pembakar yang sesuai dengan ketebalan benda kerja.

Ketebalan benda kerja akan mempengaruhi pembakar yang akan digunakan. Semakin tebal benda kerja, maka akan semakin besar pula nomor pembakar yang harus digunakan. Semakin besar nomor pembakar yang digunakan, maka semakin besar pula lubang pada ujung pembakar. Contoh, untuk mengelas pelat dengan ketebalan 0,5 mm hingga 1 mm, maka harus menggunakan pembakar dengan nomor 1 (satu). Sedangkan untuk mengelas pelat dengan ketebalan 1 mm hingga 2 mm, harus menggunakan pembakar dengan nomor 2 (dua). Hal ini harus dipatuhi agar pada saat mengelas, tukang las dapat melakukannya dengan aman, nyaman, dan baik. Sehingga hasil lasan yang didapat akan baik pula.

 

Gambar 4. Macam-macam ujung pembakar

 

3.    Atur tekanan kerja gas sesuai dengan rekomendasi.

Pada saat mengatur tekanan kerja gas, katup gas yang terdapat di pemegang pembakar harus dalam keadaan terbuka. Bila mengatur tekanan kerja gas oksigen, maka katup gas oksigen harus dibuka. Begitu juga bila mengatur tekanan kerja gas asetilen, maka katup gas asetilen harus dibuka. Tujuannya adalah agar pada saat digunakan untuk mengelas, tekanan kerja gas (baik oksigen maupun asetilen) sesuai dengan yang direkomendasikan. Tekanan kerja gas oksigen direkomendasikan sebesar 2,5 bar, sedangkan tekanan kerja gas asetilen direkomendasikan sebesar 0,5 bar.

 

Gambar 5. Mengatur tekanan kerja gas

 

4.    Atur nyala api hingga mendapatkan nyala api netral.

Nyala api pada las OAW ada 3 (tiga):

a.    Nyala api oksidasi.

Pada nyala oksidasi ini jumlah gas oksigen yang keluar lebih besar daripada gas asetilen. Nyala inti jadi lebih pendek dan berbentuk meruncing ke ujungnya. Ada suara mendesis yang lebih keras dibandingkan dengan desisan suara nyala netral. Nyala ini sering digunakan untuk pengelasan logam perunggu dan kuningan, serta terkadang digunakan untuk brazing. Nyala apinya pendek dan berwarna ungu, nyala kerucut luarnya juga pendek.

 

Gambar 6. Nyala api oksidasi

 

b.    Nyala api karburasi.

Nyala api karburasi merupakan nyala campuran gas antara asetilen dan oksigen dengan jumlah gas asetilen masih sangat dominan atau lebih banyak. Kegunaan nyala api karburasi biasanya untuk memanaskan serta untuk mengelas permukaan yang keras dan logam putih.

 

Gambar 7. Nyala api karburasi

 

c.    Nyala api netral.

Nyala api netral merupakan nyala campuran gas antara gas asetilen dan gas oksigen dengan jumlah yang relatif seimbang. Nyala api kerucut dalam berwarna putih menyala. Nyala api kerucut antara tidak ada (tidak berwarna). Nyala api kerucut luar berwarna kuning. Kegunaan nyala api netral adalah untuk pengelasan biasa dan untuk mengelas baja atau besi tuang.

 

Gambar 8. Nyala api netral

 

5.    Arah jalannya pengelasan disesuaikan dengan ketebalan benda kerja.

Dalam pengelasan dengan las OAW dikenal ada 2 (dua) cara jalannya pengelasan, yaitu pengelasan ke kiri dan pengelasan ke kanan.

a.    Pengelasan metode ke kiri atau maju.

Disebut pengelasan ke kiri apabila kawat las dijalankan mendahului pembakar las. Pengelasan ke kiri diterapkan pada benda kerja dengan ketebalan sampai dengan 3 mm, celah pengelasan sebesar 0 – 2 mm. Posisi kawat las dan pembakar tergantung pada posisi pengelasan.

 

Gambar 9. Pengelasan metode ke kiri atau maju

 

b.    Pengelasan metode ke kanan atau mundur.

Disebut pengelasan ke kanan apabila kawat las dijalankan mengikuti pembakar las. Pengelasan ke kanan diterapkan pada benda kerja dengan ketebalan di atas 3 mm, celah pengelasan sebesar 2 – 4 mm. Posisi kawat las dan pembakar las tergantung pada posisi pengelasan.

 

Gambar 10. Pengelasan metode ke kanan atau mundur

 

6.    Sudut kemiringan pembakar dan bahan tambah.

Sudut kemiringan pembakar dan bahan tambah tergantung dari jalannya pengelasan. Jika melakukan pengelasan ke kiri atau maju, maka sudut kemiringan pembakar sebesar 45o dan sudut kemiringan bahan tambah sebesar 30o (lihat gambar 9). Sedangkan jika melakukan pengelasan ke kanan atau mundur, maka sudut kemiringan pembakar sebesar 35o – 45o dan sudut kemiringan bahan tambah sebesar 40o – 50o (lihat gambar 10).

 

 

Kesimpulan

1.    Las OAW sering digunakan untuk pengelasan baja karbon, terutama lembaran logam (sheet metal) dan pipa-pipa berdinding tipis.

2.    Las OAW juga dapat digunakan untuk preheating, brazing, cutting, hard facing, produksi (production welding), pekerjaan lapangan (field work), dan reparasi (repair and maintenance).

3.    Ada 6 (enam) prosedur yang harus dilakukan apabila mengelas dengan menggunakan las OAW.

 

 

Referensi:

http://www.epras11.blogspot.com/2014/02/las-oaw-las-asetelin-atau-karbit.html

http://www.pengelasan.com/2014/06/pengelasan-oaw-oxygent-acetylene.html

Sukaini. 2011. Modul Diklat Las Oksi Asetilen (OAW). PPPPTK BOE Malang.    

Copyright 2019. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG