OPTIMALISASI GURU

Print
Category: Tek.Peng.Logam
Last Updated on Tuesday, 14 April 2015 Published Date Written by Putut Subijantoro

OPTIMALISASI GURU

DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM 2013

 

 

Putut Subijantoro

Widyaiswara P4TK-BOE Malang

Alamat e-mail: pututs2001@yahoo.com

 

 

ABSTRAK

Sejak tahun 2013 Kurikulum Pendidikan Indonesia mengalami pengembangan atau perubahan yaitu dari Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013. Setiap perubahan kurikulum perlu disikapi dengan arif dan bijaksana, apalagi perubahan tersebut merupakan tuntutan banyak pihak dan tentunya bersifat perbaikan dari kekurangan-kekurangan yang ada sebelumnya. Memahami hal tersebut maka penulisan artikel konseptual ini dimaksudkan untuk memberikan sumbangsih yang berkaitan dengan proses penyiapan tenaga pendidik yang akan mengimplementasikan Kurikulum 2013.

Dalam penyiapan pendidik/guru sudah dirancang oleh tim pengembang kurikulum berupa Struktur Program Diklat Implementasi Kurikulum 2013, tetapi dalam tulisan ini penulis menekankan pada bagaimana memotivasi guru, memhamkan guru terhadap Kurikulum 2013 secara utuh, mengaktifkan guru semaksimal mungkin dalam simulasi implementasi, serta bagaimana merubah mindset guru sesuai konsep kurikulum 2013.

Melalui penulisan artikel konseptual ini diharapkan berdampak pada mutu pendidikan dan pelatihan implementasi kurikulum 2013.

Kata Kunci: optimalisasi, guru, kurikulum 2013, mindset.

 

 


Kurikulum adalah perangkat panduan pembelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pembelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyeleng-  garaan pendidikan tersebut serta kebu- tuhan lapangan kerja. Kurikulum dimak- sudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembela- jaran secara menyeluruh. (id.wikipedia. org).

Dalam sejarahnya kurikulum memiliki dinamikanya sendiri karena kurikulum memang bersifat dinamis, luwes atau fleksibel dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan zamannya. Sesuai dengan yang disampaikan Presiden RI Bapak Susilo bambang Yudoyono saat membuka rapat kabinet terbatas bidang pendidikan di Kantor Presiden Jakarta, Selasa 02.04.2013 sebagai berikut: "Pendidikan itu dinamis, termasuk kurikulumnya sehingga tidak bisa dikatakan mengada-ada kebijakan pengembangan kurikulum. Kita sesuaikan dengan perkembangan situasi". Di Indonesia kurikulum sudah mengalami banyak perubahan atau pengembangan. Sejak tahun 1947 kurikulum pendidikan di Indonesia setidaknya telah mengalami sembilan kali perubahan/pengembangan, mulai dari Rencana Pelajaran (1947), Rencana Pendidikan Sekolah Dasar (1964), Kurikulum Sekolah Dasar (1968), Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (1973), Kurikulum Sekolah Dasar (1975), Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Revisi Kurikulum 1994, Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2006).

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sebenarnya memiliki sisi baik karena Satuan Pendidikan (Sekolah) memiliki ruang gerak untuk berkreasi mengembangkan kurikulumnya sendiri yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan yang sudah ditetapkan Pemerintah, tetapi juga mengandung banyak kelemahan baik secara konseptual maupun operasional. Secara konseptual KTSP 2006 dianggap isinya terlalu padat, belum sepenuhnya berbasis kompetensi, belum seimbang antara soft skills dan hard skills dsb., Secara operasional pengembangan KTSP-nya belum sepenuhnya menggali potensi kelokalannya, bahkan banyak kecenderungan KTSP dikembangkan dengan cara ‘copy paste’, seperti yang disampaikan oleh Direktur pembinaan Sekolah Dasar (SD) Ditjen Dikdas Kemendikbud Prof. Dr. Ibrahim Bafadal kepada Kompas.com bahwa KTSP yang memberi keleluasaan terhadap guru membuat kurikulum secara mandiri untuk masing-masing sekolah ternyata tak berjalan mulus. Tidak semua guru memiliki dan dibekali profesionalisme untuk membuat kurikulum. Yang terjadi, jadinya hanya mengadopsi saja.

Sehubungan dengan perubahan dari Kurikulum 2006 (KTSP) ke Kurikulum 2013, patut kita yakini bahwa perubahan tersebut mengandung makna perbaikan terhadap kelemahan kurikulum sebelumnya dan berdasarkan masukan dari berbagai pihak, namun sehebat apapun Kurikulum 2013 telah dikonsep melalui kajian yang mendalam dan uji publik oleh masyarakat secara luas, jika tidak terimplementasikan dengan baik dan benar maka kurikulum tersebut hanyalah seberkas kurikulum tanpa makna atau hanya sebagai macan kertas belaka dan hanya akan menimbulkan kesia-siaan biaya, tenaga, dan waktu yang digunakan sehingga berakibat pada akselerasi kemajuan pendidikan kita kedepan berjalan tidak sesuai dengan harapan bangsa yang terus berkembang menuju kemajuan ini.

Oleh karena itu setiap ada proses perubahan kurikulum tentunya menuntut pengembangan komponen-komponen pendidikan yang lainnya untuk mendukung perubahan tersebut berhasil, terutama terhadap komponen sumber daya manusianya, terutama para tenaga pendidik atau gurunya, karena guru merupakan agen perubahan yang paling strategis di tingkat satuan pendidikan. Sehingga untuk mencapai sukses dan tidaknya implementasi Kurikulum 2013 maka peran gurulah yang menjadi penentu utamanya. Kurikulum memang penting dan harus ada, tetapi guru lebih penting dari pada kurikulum.

Menyadari betapa penting dan strategisnya peran pendidik/guru dalam mengimplementasikan kurikulum maka dalam artikel konseptual ini dibahas beberapa hal yang penulis anggap urgen dan bersifat mendesak untuk segera ditindak lanjuti adalah bagaimana mempersiapkan tenaga pendidik/guru supaya memiliki motivasi dan pemahaman serta terlatih dengan baik dan sehingga memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. 

 

PEMBAHASAN

            Keberhasilan suatu kurikulum merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan pendidik dan tenaga kependidikan serta sarana dan prasarana, tata kelola pelaksanaan kurikulum termasuk pembelajaran dan penilaian pembelajaran yang dalam tulisan ini bahasan dibatasi pada lingkup mempersiapkan pendidik/guru untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013. Pada dasarnya didalam kurikulum ada lima komponen kurikulum: (1) Tujuan Pendidikan, (2) Isi, (3) Strategi, (4) Pengelolaan Kurikulum, dan 5) Evaluasi yang dalam penerapannya gurulah yang mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengajaran dengan berpedoman pada kurikulum dengan lima komponennya tersebut untuk berinteraksi langsung dengan peserta didik. Jadi guru merupakan eksekutif utama kurikulum. Dengan demikian bagaimana hubungan kurikulum, pendidik, dan peserta didik dalam pendidikan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gb. 1 Kurikulum dalam Pendidikan

Melihat kedudukan kurikulum dalam pendidikan diatas maka kurikulum bisa menjadi kegiatan dan keberhasilan jika pendidik/guru mengimplementasikannya dengan sebaik-baiknya, pelaksanaannya berjalan efektif dan efisien dalam setiap proses kegiatan belajar mengajar (KBM) nya. Untuk mencapai proses KBM yang efektif dan efisien diperlukan pendidik yang terlatih sesuai dengan profesinya, memiliki motivasi yang tinggi dalam menjalani profesinya, dan memahami karakteristik dan tuntutan kurikulum yang harus dilaksanakannya. Didalam perubahan dari Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013, dari delapan Standar Nasional Pendidikan, secara mendasar ada empat standar/elemen perubahan yakni Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi (kompetensi inti dan kompetensi dasar), Standar Proses, dan Standar Penilaian. Namun demikian, seperti yang sudah dikemukakan dimuka bahwa perubahan kurikulum akan menuntut perubahan/ pengembangan komponen pendidikan yang lain terutama pada standar tenaga pendidiknya.

            Menyimak upaya pemerintah dalam hal ini Kemendikbud dalam melahirkan dan mengimplementasikan Kurikulum 2013 mulai dari kajian kurikulum 2006, sharing pendapat, perumusan kompetensi-kompetensi, finalisasi kerangka dasar sampai struktur kurikulum, uji publik, revisi, sosialisasi, pengembangan silabus dan panduan guru, penulisan dan penggandaan buku teks, pendistribusian buku-buku, pelatihan guru, sampai dengan implementasi kurikulum  merupakan pekerjaan besar dan menghadapi medan kerja yang secara geografis sangat luas dan secara kuantitatif guru yang harus dibekali supaya kompeten untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013 adalah sangat-sangat banyak. Pelatihan  pendidik/guru adalah bagian dari pengembangan kurikulum. Menurut dokumen kurikulum pelatihan pendidik disesuaikan dengan strategi implementasi yaitu:  Tahun pertama 2013  sampai tahun 2015 ketika kurikulum sudah dinyatakan sepenuhnya diimplementasikan. Strategi pelatihan dimulai dengan melatih calon pelatih (Master Trainer) yang terdiri atas unsur-unsur, yaitu Dinas Pendidikan, Dosen, Widyaiswara, Guru Inti Nasional, Pengawas dan Kepala Sekolah berprestasi. Langkah berikutnya adalah melatih Master Teacher  yang terdiri  dari guru inti, pengawas dan kepala sekolah. Pelatihan yang bersifat masal dilakukan dengan melibatkan semua guru kelas dan guru mata pelajaran di tingkat SD, SMP dan SMA/SMK. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan langkah strategi yang memadai. Dalam hal ini pemerintah telah membuat rencana strategi penyiapan guru sebagai berikut.

Gb. 2 Skema Strtegi Penyiapan Guru

Tim Pengembang Kurikulum akan membekali Istruktur Diklat yang terdiri dari unsur Dinas Pendidikan, Dosen, Widyaiswara, Guru Inti, Pengawas, dan Kepala Sekolah. Instruktur Diklat yang sudah terlatih, berkewajiban membekali Guru Utama yang terdiri dari Guru Inti, Pengawas, dan Kepala Sekolah yang belum masuk sebagai Instruktur Diklat. Selanjutnya Guru Utama berkewajiban memberikan pendidikan dan pelatihan kepada para guru yaitu Guru Kelas, Guru Mata Pelajaran pada SD, SMP, SMA, dan SMK.

            Agar dapat mengoperasionalkan strategi tersebut secara efisien dan efektif penulis berpendapat bahwa untuk pembekalan Instruktur Diklat dilaksanakan pada pusat diklat- pusat diklat  terpilih dengan jumlah sesuai dengan ketersediaan jumlah personal Tim Pengembang Kurikulum. Instruktur Diklat yang sudah terlatih selanjutnya memberi pembekalan kepada Guru Utama ke wilayah yang ditetapkan secara rayonisasi. Guru Utama yang sudah terlatih, memberi pembekalan kepada guru dan pada akhirnya guru terlatih menginduksi teman sejawat di tingkat sekolah. Dalam pelaksanaannya pengendalian secara penuh sangat diperlukan sehingga ketika terjadi permasalahan akan cepat terpantau dan segera dapat diatasi.

            Selanjutnya lepas dari pro-kontra yang berkembang dimasyarakat tentang perubahan kurikulum ini, kelihatannya pemerintah akan tetap melaksanakan Kurikulum 2013 yang akan dimulai pada bulan Juli 2013, yang tentunya disamping memerlukan strategi seperti diatas, menurut penulis hal-hal berikut ini perlu mendapat prioritas.

 

Memotivasi Guru

            Ada pertanyaan, apa yang membuat guru bertahan menjalani profesinya? Jawabannya barangkali bisa sejumlah orang yang menjawab. Karena seperti yang kita ketahui, keberadaan guru adalah sangatlah bervariatif mulai dari guru-guru yang berada di ibu kota negara yang dekat sekali dengan kehidupan serba ‘wah’ atau serba glamour sampai dengan guru guru yang berada di daerah terpencil atau daerah terluar wilayah Indonesia yang tentu jauh dari yang namanya kemewahan. Namun demikian baik guru yang berada di ibu kota maupun guru yang berada di daerah terpencil tentu memiliki kesamaan motivasi bahwa mereka sama-sama ingin menjadi guru yang baik. Jadi intinya motivasilah yang menjadi titik tolak seseorang melakukan sesuatu.

Didalam dunia pendidikan motivasi adalah sangat-sangat penting, ibaratnya guru termotivasi membuat siswanya juga termotivasi, dan motivasi akan tetap bertahan dengan baik ketika seseorang dapat mencapai kepuasan dalam pekerjaannya baik berupa materiil maupun non materiil sehingga mendorong mereka untuk melakukan yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, untuk dapat mengarahkan perilaku produktif dan efisien, masalah motivasi ini perlu diketahui dan dikaji lebih dalam.

Sehubungan dengan akan diadakannya pembekalan bagi guru mengenai akan di implementasikannya Kurikulum 2013 maka secara bersamaan juga perlu dipikirkan bagaimana pembekalan nanti benar-benar membangkitkan motivasi yang tinggi bagi guru untuk menerapkan Kurikulum 2013. Bagaimana cara membangkitkan motivasi sebenarnya dapat digali dari beberapa teori tentang motivasi seperti teori penetapan tujuan, teori kebutuhan dari McClelland, teori hierarki kebutuhannya Maslow, teori ERG, dsb. Pada umumnya motivasi merupakan rangkaian tiga unsur yang membentuk siklus motivasi seperti yang dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gb. 3 Siklus Motivasi

Teori penetapan tujuan (Goal-setting theory) yaitu merupakan teori yang membicarakan tentang pengaruh penetapan tujuan, tantangan, dan umpanbalik terhadap kinerja.  Teori ini berangkat dari maksud untuk bekerja mencapai suatu tujuan itu merupakan sumber utama dari motivasi kerja.  Tujuan-tujuan tersebut memberitahu peserta mengenai apa yang harus dilakukan dan seberapa besar upaya yang harus dikerahkan.  Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan yang spesifik dapat meningkatkan kinerja; bahwa tujuan-tujuan yang sulit dicapai, bila diterima, bisa menghasilkan kinerja yang lebih tinggi ketimbang tujuan-tujuan yang tidak terlalu sulit; dan bahwa umpanbalik akan mengarah pada kinerja yang lebih tinggi ketimbang bila tidak ada umpanbalik.

 

Tujuan-tujuan yang spesifik dan sulit akan menghasilkan suatu tingkat output yang lebih tinggi ketimbang tujuan umum “lakukan yang terbaik”.  Kekhususan tujuan itu sendiri bertindak sebagai suatu stimulus internal. Artinya, misalnya dalam penyelenggaraan suatu kegiatan Diklat maka penetapan tujuan perlu diajukan secara spesifik yang dapat menstimulasi peserta, dan pada momen-momen yang tepat perlu diberikan umpanbalik yang tepat pula. Orang akan bekerja lebih baik jika mendapatkan umpanbalik mengenai seberapa baik kemajuan mereka dalam mencapai tujuan tersebut karena umpanbalik ini bisa membantu mengidentifikasi ketidaksesuaian antara apa yang dilakukan dengan apa yang ingin dilakukan; artinya umpanbalik bertindak untuk mengarahkan perilaku.  Tetapi tidak semua umpanbalik itu manjur.  Umpanbalik yang dihasilkan sendiri (self-generated), yaitu ketika peserta bisa memonitor kemajuannya sendiri, terbukti merupakan suatu motivator yang ampuh ketimbang umpanbalik yang dihasilkan secara eksternal.

Singkatnya, dapat dikatakan bahwa niat atau maksud merupakan pendorong motivasi yang ampuh.  Dalam kondisi yang tepat, niat atau maksud tersebut bisa mengarah pada kinerja yang lebih tinggi. Apalagi jika peserta diberikan kesempatan untuk bisa memonitor kemajuannya sendiri.

Teori kebutuhan yang dikembangkan oleh David McClelland dan rekannya,  memfokuskan pada tiga kebutuhan:  achievement,  power, dan affiliation.  Ketiga kebutuhan tersebut dapat didefinisikan sebagai berikut:

·         Need for achievement: Dorongan untuk mengungguli, untuk mencapai sejumlah standar, untuk berjuang agar berhasil. Sebagian orang memiliki suatu pendorong yang memaksa agar berhasil.  Orang-orang tersebut berjuang demi pencapaian pribadi ketimbang demi imbalan atas keberhasilan itu sendiri.  Mereka memiliki keinginan untuk berbuat sesuatu secara lebih baik atau lebih efisien ketimbang yang dilakukan sebelumnya. Dari penelitiannya, McClelland menemukan bahwa orang-orang yang prestasi pencapaiannya tinggi itu membedakan diri mereka sendiri dari orang lain dengan keinginan mereka untuk berbuat sesuatu dengan lebih baik.

·         Need for power: Kebutuhan untuk membuat orang lain bertindak seperti yang kita inginkan dan bukan bertindak sebaliknya. Merupakan hasrat untuk memiliki dampak, untuk berpengaruh, dan untuk mengendalikan orang lain. 

·         Need for affiliation: Keinginan memi- liki hubungan yang bersahabat dan intim dengan orang lain. Keinginan untuk disukai dan diterima oleh orang lain.  Orang yang motif affiliation-nya tinggi akan berupaya untuk berteman, lebih menyukai situasi yang kooperatif ketimbang situasi yang kompetitif, dan menginginkan hubungan dengan tingkat saling-memahami yang tinggi.

Dengan demikian didalam proses pelatihan diberikan motivasi tentang kebanggaan diri ketika orang mencapai prestasi terbaik, diberikan motivasi bahwa ketika seseorang mencapai prestasi terbaik akan membangkitkan kepercayaan sehingga lebih mudah untuk menginduksi kepada orang lain, dan juga diberikan motivasi bahwa membangun pertemanan sangat diperlukan yaitu untuk saling memahami satu dengan yang lainnya dalam hal perbedaan- perbedaan yang ada.

Teori kebutuhan yang dikembangkan oleh Clayton Alderfer merupakan pengembangan dari teori hierarki kebutuhan yang dikembangkana oleh Maslow, jika di teori hierarki kebutuhan Maslow ada lima tingkatan (physiological needs, safety needs, love needs, esteem needs, self actualization needs) dimodifikasi menjadi tiga kebutuhan yaitu Existence, Relatedness, dan Growth (ERG).

Gb. 4 Teori ERG

Revisi atas hierarki kebutuhan itu disebut teori ERG.  

Alderfer menyatakan bahwa ada tiga kelompok utama kebutuhan, existence,  relatedness, dan growth (ERG). 

Kelompok existence berkaitan dengan penyediaan kebutuhan eksistensi bahan baku.  Di sini existence dapat disejajar kan dengan kebutuhan physiological  dan safety dari Maslow.  Kelompok kedua adalah kebutuhan relatedness, yaitu hasrat yang dimiliki untuk mempertahankan hubungan penting dengan orang lain.  Hasrat sosial dan status ini memerlukan interaksi dengan orang lain jika ingin dipuaskan, dan ini dapat disejajarkan dengan kebutuhan  social/love Maslow dan komponen eksternal dari kelompok  esteem  Maslow.  Terakhir, Alderfer memisah kan kebutuhan growth, yaitu suatu hasrat intrinsik untuk pengembangan pribadi.  Ini antara lain adalah komponen intrinsik dari kategori  esteem Maslow dan karakteristik yang termasuk ke dalam self-actualization.

Teori ERG ini tidak berasumsi bahwa terdapat suatu hierarki yang kaku sehingga kebutuhan yang lebih rendah itu harus dipuaskan lebih dahulu sebelum bergerak ke tingkat yang lebih tinggi.  Seseorang dapat saja bekerja untuk tingkat growth walaupun kebutuh- an existence dan relatedness belum ter- puaskan; atau bisa saja ketiga kelompok kebutuhan itu berjalan pada waktu yang bersamaan.

Teori ERG ini menyatakan, seperti halnya Maslow, bahwa kebutuhan peringkat rendah yang telah terpuaskan itu akan mengarah pada keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang peringkat nya lebih tinggi.  Namun, berbagai kebutuhan dapat bertindak sebagai motivator secara bersamaan, dan frustasi dalam mencoba untuk memuaskan kebutuhan yang peringkatnya lebih tinggi dapat mengakibatkan kemunduran pada suatu kebutuhan yang peringkatnya lebih rendah.

Dengan demikian bila mengacu pada teori ERG ini, di dalam proses pelaksanaan kegiatan pelatihan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang dapat termotivasi karena eksistensinya, hasrat sosialnya, dan  hasrat instrinsik untuk pengembangan pribadinya merasa mendapat perhatian dan penghargaan yang memadai. Ditingkatan eksistensi diperlukan interaksi yang memadai demi menjaga emosionalnya sehingga keberadaan seseorang merasa mendapat perhatian bahkan merasa aman terlindungi sehingga mereka mendapat kenyamanan dalam melakukan aktivitasnya. Demikian juga ditingkatan hasrat sosial, perlu diciptakan suasana kebersamaan yang memadai melalui interaksi atau kerja kelompok yang intens. Kemudian ditingkat pengembangan diri atau aktualisasi diri, penghargaan bahkan pujian terhadap setiap usaha positip secara mandiri mestinya selalu diberikan secara proporsional.

Berdasarkan uraian diatas, maka setiap aktivitas manusia dimulai dari adanya kebutuhan baik kebutuhan materiil maupun non materiil, misalnya kebutuhan untuk diakui keberadaanya, ingin mendapatkan sesuatu, ingin capaian yang lebih baik, bahkan ingin menjadi yang terbaik, dsb. Kebutuhan merupakan suatu ‘kekurangan’.  Dalam pengertian keseimbangan, kebutuhan tercipta apabila terjadi ketidak seimbangan yang bersifat fisiologis atau psikologis. Kebutuhan merupakan kekurangan yang berarti adanya kesenjangan antara keinginan dan tujuan yang membangkitkan dorongan untuk mengaktualisasikan hasrat keinginannya. Sehingga dorongan tersebut berorientasi pada tindakan untuk mencapai tujuan. Pada akhirnya pencapaian suatu tujuan cenderung akan memulihkan ketidak- seimbangan menjadi keseimbangan yang bersifat fisiologis dan psikologis. Dengan demikian antara kebutuhan, dorongan, dan tujuan merupakan siklus motivasi yang tidak dapat dipisah-pisahkan karena ketiga elemen tersebut saling mendukung dan saling mem- pengaruhi. Suatu misal, apa tujuan orang menjadi guru, jawaban yang paling relevan misalnya untuk mendidik anak, untuk mencapai tujuan tersebut timbul dorongan untuk melakukan proses bagaimana mendidik anak dan ketika mampu dan berhasil melakukannya yang didapatkan adalah kepuasan karena telah berhasil mendidik anak. Jadi setiap proses pencapaian tujuan pasti diawali dengan adanya motivasi.

Disamping berdasarkan teori-teori motivasi yang ada yang dapat diaplikasikan pada setiap kegiatan pendidikan dan latihan, tidak berlebihan jika perlu, melibatkan juga para motivator. Juga pada saat-saat yang diperlukan, penguatan motivasi berupa aktifitas-aktifitas kecil atau penayangan pepatah-pepatah, gambar-gambar, dan kalimat emas atau kata-kata mutiara dapat diterapkan sebagai ‘ice breaking’ sebagai pemecah kebekuan atau kejenuhan suasana, dengan harapan para peserta menjadi segar  kembali (refresh). Dibawah ini adalah salah satu contoh kalimat yang mungkin dapat menggugah semangat guru untuk menjadi guru yang baik,  seperti berikut:

Seratus tahun dari sekarang, tidak akan ada artinya jenis mobil apa yang akan saya kendarai, rumah sebesar apa yang saya tinggali, berapa banyak uang yang saya punyai atau pun sebagus apa baju yang saya pakai. Tetapi dunia mungkin akan bisa menjadi sedikit lebih baik karena saya berperan penting dalam kehidupan seorang anak. (Anonim)

Memahami kurikulum

Menyimak suara para guru di dunia maya dalam hal bagaimana guru dapat termotivasi dan dapat melaksanakan tugas sebagai guru dengan baik, kebanyakan dari para guru ingin memahami kurukulum dengan sebaik-baiknya. Suara-suara para guru tesebut diantaranya: ‘Bukan gaji yang harus ditambah, tetapi sosialisasi kurikulum secara berkelanjutan yang harus dilaksanakan’; Kurikulum terlebih dulu yang mesti di tekankan dan digalakkan; Perlu adanya sosialisasi kurikulum yang kontinyu dan benar-benar sosialisasi, jangan sekedar datang-duduk-diam-tanda tangan; Perlu sosialisasi yang sempurna tentang kurikulum; dsb., dan tentunya masih banyak lagi suara-suara yang lain, tetapi dari beberapa yang penulis sampaikan diatas kiranya sudah mewakili suara guru tentang betapa pentingnya pemahaman kurikulum oleh para guru. Hal tersebut harus benar-benar kita sadari, karena para guru juga benar-benar menyadari bahwa untuk dapat melaksanakan kurikulum, maka pertama kali yang harus dilakukan adalah mereka harus mampu memahami kurikulum yang akan dilaksanakan.

Apa yang harus dipahami guru tentang kurikulum yang akan dilaksanakan tentu tidak cukup memahami isi atau substansinya saja, seperti yang telah dirancang dalam struktur program diklat implementasi Kurikulum 2013, tetapi juga perlunya memberikan pemahaman yang memadai mengenai landasan apa saja yang digunakan sebagai dasar  pengembangan kurikulum, juga apa saja dan bagaimana prinsip-prinsip pengem –bangan kurikulumnya, baru kemudian memahami struktur kurikulum sesuai satuan atau jenjang pendidikannya. Penerapan kurikulum pada prinsipnya  menyangkut perubahan perilaku manusia yaitu peserta didik, melalui bagaimana cara mereka belajar dan faktor apa saja yang menghambat maupun yang menguatkan kemauan belajar mereka. Oleh karena itu secara psikologis perlu ada pemahaman bahwa kurikulum memberikan landasan berfikir tentang hakiki proses belajar dan tingkat perkembangan peserta didik sesuai dengan jenjang pendidikannya, bagaimana keterikatan dan ketersam- bungan dari kurikulum pada jenjang pendidikan terendah sampai dengan kurikulum pada jenjang pendidikan tertinggi.

Sehubungan dengan adanya perubahan kurikulum 2006 ke kurikulum 2013 perlu adanya penjelasan secara tuntas mengenai hal-hal yang melatarbelakangi perubahan tersebut, alasan dan elemen-elemen perubahannya. Hal tersebut penting karena terkait dengan tuntutan perubahan mindset bagi para pendidik mengenai perubahan paradigma, dari konten menuju kompetensi, persepsi tentang peserta didik, persepsi tentang belajar, dan persepsi tentang fungsi penilaian. Dari yang semula siswa banyak diberi tahu guru, kedepan siswa akan banyak mencari tahu kepada guru dan melalui media pembelajaran baik yang ada di kelas maupun yang berada diluar kelas, jadi kedepan diharapkan siswa lebih banyak mencari tahu (learning by discovery) dan guru harus mampu merangsang dan selalu menkondisikan peserta didik ke situasi yang demikian itu.

Didalam pemahaman kurikulum 2013 memang sudah dirancang tentang Struktur Program Diklat Implementasi Kurikukum 2013 yang meliputi konsep kurikulum 2013, analisis materi ajar, perancangan model belajar, dan praktik pembelajaran terbimbing. Namun demikian dalam pemahaman kurikulum 2013 bagi para pendidik tidak bisa setengah-setengah, harus tuntas bahkan seakan-akan pendidik ikut dalam perencanaan kurikulum 2013. Ini adalah tantangan, karena usaha perubahan biasanya yang dihadapi adalah kebiasaan lama dan merubah kebiasaan lama adalah hal yang tidak mudah, memerlukan edukasi yang benar. Pemahaman oleh guru tentang kurikulum 2013 harus benar-benar utuh, karena dengan pemahaman yang utuh akan membangkitkan rasa kepercayaan diri yang tinggi dan rasa percaya diri yang tinggi adalah kunci sukses bagi guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013.

Dalam Diklat Implementasi Kurikulum 2013 bagi tenaga pendidik tujuannya adalah memahamkan guru tehadadap kurikulum 2013, yang mana didalam diklat pasti terjadi proses pembelajaran dan seperti yang sudah kita ketahui bahwa tidak ada metode pembelajaran yang berhasil menghasilkan daya serap seratus persen, tetapi cara belajar yang bagaimana akan sangat menentukan daya serap bagi peserta diklat. Bagi peserta Diklat yang belajar hanya dengan cara mendengar maka daya serapnya hanya mencapai maksimal 20%, cara belajar melalui melihat daya serapnya 30%, mendengar dan melihat 50%, merumuskan sendiri 70% dan melakukan sendiri 90%. Dengan demikian metode apapun yang digunakan sebaiknya dipilih yang paling banyak mengaktifkan peserta diklat. Walaupun demikian, perlu diingat bahwa pola pengaktifan peserta diklat supaya tidak menjadi kontra produktif, alangkah baiknya memperhatikan gradasi tingkat kesulitan materinya, sehingga peserta selalu merasa termotivasi karena setiap tahapan kerjanya memiliki urutan yang benar dan dengan mudah dapat diikuti, tidak sebaliknya justru peserta merasa tertekan karena tugas-tugas yang diberikan sehingga malah patah semangat, hilang motivasi sehingga usaha pengaktifan peserta untuk mencapai daya serap yang tinggi justru menjadi kotra produktif.

Dengan memperhatikan tingkat daya serap menurut cara belajar tersebut maka jika kita lihat struktur program diklat implementasi kurikulum 2013, metode pengaktifan peserta diklat dapat diterapkan mulai dari analisis materi ajar, perancangan model belajar sampai dengan praktik pembelajaran terbimbing yang merupakan kegiatan terpenting dalam memahami kurikulum 2013. Dengan demikian pola pemahaman kurikulum 2013 adalah setelah tahap pemaparan konsep dengan diskusinya, maka memasuki materi berikutnya, peserta diklat dapat mulai diaktifkan untuk mengekplorasi kurikulum 2013 sesuai dengan tugas-tugasnya.

 

PELATIHAN BAGI GURU

Pendidikan dan pelatihan implementasi kurikulum 2013 bagi guru adalah sangat penting, karena disamping memberikan pemahaman kepada guru juga untuk memperbaiki kompetensi guru sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 yang akan dilaksanakan.

Dalam pelaksanaan Diklat siapapun yang terpilih sebagai pengampunya harus memikirkan bagaimana proses diklat dapat berjalan secara efisien dan efektif. Tentunya dalam hal ini pemilihan metode pembelajaran bagi orang dewasa sangat dibutuhkan. Seperti sudah disampaikan dimuka bahwa untuk mencapai serapan yang tinggi bagi peserta sebaiknya metode pendidikan dan pelatihannya dipilih yang banyak mengaktifkan peserta diklat dengan catatan apapun bentuk pengaktifannya, diusahakan realistis sesuai dengan tahapan pemahaman yang sudah dirancang, menarik perhatian atau tidak membosankan, dan dapat menciptakan suasana suka-cita bagi seluruh peserta. Dengan banyak mengaktifkan peserta diharapkan peserta memiliki perubahan perilaku melalui simulasi implementasi kurikulum 2013, karena dalam simulasi seakan-akan peserta sudah mengimple-mentasikan kurikulum 2013. Karena tujuan diklat adalah adanya perubahan perilaku bagi peserta diklat maka untuk dapat mengetahui adanya perubahan perilaku pengampu harus dapat membandingkan antara kondisi awal peserta sebelum diklat dan kondisi akhir peserta setelah diklat. Untuk mengetahui dua kondisi tersebut maka perlu dilakukan tes awal sebelum pelatihan dilaksanakan (pre test) dan tes akhir pasca pelatihan (post test). Hal ini penting untuk mengetahui tingkat kemajuan belajar peserta dan data tersebut juga dapat digunakan untuk menentukan siapa diantara peserta yang pantas mendapat penghargaan karena prestasinya dalam diklat yang diikutinya juga untuk mengetahui potensi peserta yang pantas menjadi agen sosialisasi kurikulum selanjutnya.

Selanjutnya dalam pendidikan dan pelatihan guru dalam mengimplementa-sikan kurikulum 2013 yang terpenting adalah bagaimana guru bisa berubah mindsetnya yang semula pembelajaran berdasarkan mata pelajaran, kedepan menjadi pembelajaran berdasarkan tema, karena memang itu ‘ruh’-nya kurikulum 2013, yang semula guru banyak memberitahu peserta didik kedepan guru harus mampu mengkondisikan  peserta didik banyak mencari tahu, jadi metode memotivasi peserta didik harus secara intensif di-refresh. Dengan demikian jika setelah mengikuti diklat guru tidak berubah mindsetnya maka itu bisa jadi merupakan awal kegagalan implemen-tasi kurikulum 2013. Disitulah pekerjaan terberat bagi para pengampu Diklat Implementasi Kurikulum 2013.

 

KESIMPULAN

Kurikulum sebagai pedoman dasar dalam pelaksanaan pendidikan, dalam sejarahnya memiliki dinamika sesuai dengan perkembangan zaman, tuntutan masyarakat dan dunia kerja. Demikian juga kurikulum pendidikan di Indonesia sejak setelah kemerdekaan Indonesia telah mengalami beberapa perubahan atau pengembangan, yang terakhir yaitu perubahan krikulum 2006 ke kurikulum 2013.

Setiap perubahan kurikulum akan selalu menimbulkan ketidaknormalan terutama di tingkat operasional yaitu pada tataran para pendidik. Ketidaknormalan tersebut segera bisa diatasi dengan melakukan persiapan-persiapan terutama menyiap-kan para pendidik dalam menghadapi kurikulum 2013. Penyiapan guru dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan implementasi kurikulum 2013.

Dalam diklat implementasi kurikulum, pertama-tama yang terpenting adalah bagaimana membangkitkan motivasi peserta diklat. Pemberian motivasi bisa mengacu dari teori-teori motivasi yang sudah ada.

Dengan motivasi yang sudah terbangun akan membangkitkan rasa keingintahuan peserta terhadap kurikulum 2013 menjadi tinggi, maka upaya pemahaman bagi peserta diklat terhadap kurikulum 2013 akan menjadi lebih mudah.

Yang terpenting setelah memahami kurikulum 2013 adalah terjadinya perubahan mindset para pendidik sesuai konsep  kurikulum 2013, bahwa yang semula berorientasi pada mata pelajaran menjadi berorientasi pada tema. Karena jika tidak terjadi perubahan mindset maka bukan tidak mungkin masalah tersebut akan menjadi gagalnya kurikulum 2013.

Dinamika atau perubahan kurikulum perlu disambut dengan rasa optimisme yang tinggi, terutama bagi para pendidik, mengimplementasikan kurikulum adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan dengan motivasi yang tinggi demi peningkatan mutu pendidikan  di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Akhmad S., 2012. Kedudukan Kurikulum dan Guru dalam Pendidikan. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2012/12/12/kedudukan-kurikulum-dan-guru-dalam-pendidikan/, diakses 19.04.2013

 

Anita Lie, 2012. Menyambut Kurikulum 2013. http://edukasi.kompas.com/read/2012/12/05/13070730/Menyambut.Kurikulum.2013. diakses 19.04.2013

 

..........., 2013. Motivasi Guru,  http://www.anneahira.com/motivasi-motivasi-guru.htm, diakses 24.04.2013

.........., Bagaimana Memotivasi Guru, http://kutubuku.web.id/1392/bagaimana-memotivasi-guru , diakses 24.04.2013

 

Hermono dkk., 2010. Memotivasi Guru, http://psb-psma.org/forum/sma-model-skm-pbkl-psb/kurikulum-tingkat-satuan-pendidikan-ktsp/memotivasi-guru, diakses  24.04.2013

 

Sunarto, 2008. Strategi Mengoptimalkan Motivasi Guru untuk Mandiri, http://apakabarpsbg.wordpress.com/2008/06/18/, diakses 24.04.2013

 

......., 2012. Motivasi Guru: Teori-teori Motivasi. http://jodenmot.wordpress.com/2012/12/29/motivasi-guru-teori-teori-motivasi/, diakses 24.04.2013

 

Mujia R., 2010. Pengembangan Profesionalisme Guru, http://mudjiarahardjo.com/artikel/135-pengembangan-profesionalisme-guru, diakses 23.04.2013

 

Nursyam, ...... Proyeksi Implementasi Kurikulum 2013. http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=3724 , diakses 25.04.2013.

 

Riana A., 2012. Pelatihan Guru Untuk Penerapan Kurikulum 2013. http://edukasi.kompas.com/read/2012. diakses 19.04.2013.

Wamendikbud, 2013. Memotivasi Guru Agar Kreativ, http://www.antaranews.com/berita/352828/wamendikbud-memotivasi-guru-agar-kreatif , diakses  24.04.2013

Copyright 2017. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG