KERUSAKAN KAYU AKIBAT PROSES PENGERINGAN

KERUSAKAN KAYU AKIBAT

PROSES PENGERINGAN

Hartiyono (Widyaiswara Madya )

Departemen Bangunan PPPPTK BOE / VEDC Malang

 

Abstrak

   Perkembangan teknologi pengeringan kayu di Indonesia sangat pesat, mulai dari cara alami sampai penggunaan mesin pengering kayu modern. Tahapan proses pengeringan kayu secara umum, yaitu pemanasan awal pengeringan sampai titik jenuh serat, pengeringan sampai kadar air akhir, pengkondisian penyamaan atau pemerataan kadar air kayu (equalizing), dan pendinginan Ada beberapa cacat kayu dalam proses pengeringan, yaitu retak ujung dan permukaan; pengerasan kayu; retak dalam; perubahan bentuk; cacat kadar air tidak merata; dan perubahan warna kayu.

      Kata kunci : pengeringan, proses, cacat kayu.

 

1.        Pendahuluan

Perkembangan teknologi pengeringan kayu di Indonesia sangat pesat, mulai dari cara alami dengan memanfaatkan matahari sampai penggunaan mesin-mesin pengering kayu canggih dan modern.

Umumnya kesalahan utama yang sering terjadi adalah lemahnya perencanaan awal, yaitu perkiraan kapasitas produksi dan besarnya modal investasi yang terhitung dalam bentuk biaya pengoperasian mesin. Juga keterampilan operator sangat penting karena kesalahan pengendalian proses pengeringan berarti kerugian, seperti kayu pecah, melengkung, atau retak-retak. Lebih parah lagi bila terjadi kesalahan memilih mesin pengering, yang akan membawa kerugian investasi dan bahan kayu yang cacat.

 

2. Tujuan
Kayu sebagai bahan alam yang populer, mudah didapat, dan murah mampu ditingkatkan nilai ekonominya melalui pemberian perlakuan awal dengan proses pengeringan kayu yang baik, mudah, dan murah sehingga mudah dilakukan dan terjangkau bagi produsen maupun konsumen kayu.

3  . Manfaat
Kayu melalui proses pengeringan dapat menurunkan kadar air kayu sehingga terbentuk dimensi kayu yang stabil, mudah dalam pengerjaannya, dan menghindari cacat pada kayu sehingga nilai ekonomi dan nilai pakai kayu akan meningkat sehingga harga jual kayu akan semakin tinggi.

 

4. Dalam garis besar kerusakan yang timbul disebabkan oleh 3 hal :

4.1.        Akibat penyusutan kayu

4.2.        Serangan jamur pembusuk

4.3.        Bahan kimia di dalam kayu (zat ekstraktif)

 

4.1. Kerusakan Akibat Penyusutan Kayu

 

 
               

 

 

 

 

 

 


Terjadi pada saat kayu mengering. Umumnya pada pengeringan dengan kiln atau secara alami dapat timbul kerusakan akibat penyusutan ini, disebabkan kurang hati-hati dalam pelaksanaan. Di antara ketiga golongan kerusakan kayu, kerusakan oleh penyusutan adalah yang paling banyak terjadi. Hal ini perlu mendapat perhatian, agar kerusakan tersebut dapat dicegah dengan jalan menurunkan suhu atau menaikkan kelembaban udara. Kerusakanny biasanya bisa berupa retak pecah atau yang lainnya.

Cacat-cacat serupa yang diakibatkan penyusutan antara lain adalah :

·         Pecah ujung (end checks) dan pecah permukaan (surface checks)

·         Pecah dimulai pada bagian ujung kayu dan menjalar sepanjang papan

·         Retak di bagian dalam kayu (honeycombing)

·         Casehardening

·         Bentuk mangkok (cupping) : perubahan bentuk melengkung pada arah lebar kayu

·         Bentuk busur (bowing) : perubahan bentuk melengkung pada arah memanjang kayu

·         Menggelinjang (twist)

·         Perubahan bentuk penampang kayu (diamonding)

Cacat-cacat bentuk ini sukar dihindari, tetapi dapat dikurangi dengan cara penumpukan yang baik dan meletakkan beban pemberat pada bagian atas tumpukan serta tidak memberikan suhu yang terlalu tinggi selama proses pengeringan.

4.2. Kerusakan Akibat Serangan Jamur Pembusuk

 

 
 

 

 

 

 

 

 


Kerusakan ini terjadi pada permulaan pengeringan. Jamur itu sendiri sebenarnya telah melekat sebelum kayu tersebut dikeringkan dalam kiln. Yang banyak diserang umumnya adalah bagian kayu gubal. Karena jamur dapat tumbuh subur pada suhu yang rendah dan kelembaban yang tinggi, maka untuk mengendalikan kerusakan ini ialah dengan mempercepat pengeringan pada suhu lebih tinggi. Umumnya kerusakan ini hanya mengubah warna kayu, tidak menurunkan sifat mekanik kayu.

4.3. Kerusakan Akibat Bahan Kimia Di Dalam Kayu

 

                   

 

 

Kayu memiliki kandungan beberapa zat, diantaranya adalah zat ekstraktif. Melalui reaksi kimia zat ini dapat mengakibatkan perubahan warna atau noda kimia pada kayu. Perubahan ini tidak mempengaruhi kekuatan kayu itu sendiri, hanya pengruh yang tidak baik terhadap penglihatan mata saja. Hal itu terjadi karena bereaksinya zat ekstraktif dengan panas yang ada pada kiln.

 

5.  Kesimpulan

Teknologi pengeringan kayu yang cukup dikenal, yaitu Solar Kiln, Conventional Kiln, Vacuum Kiln dan Dehumidification Kiln. Proses pengeringan kayu secara umum melalui beberapa tahap, yaitu pemanasan awal (preheating); pengeringan sampai titik jenuh serat; pengeringan sampai kadar air akhir; pengkondisian (conditioning); penyamaan atau pemerataan kadar air kayu (equalizing); dan pendinginan (cooling down). Cacat pengeringan kayu dapat diakibatkan oleh faktor kondisi kayu sebelum diproses; mesin dan teknologi pengeringannya; atau kemampuan operator oven.

 

6. Referensi

Arganbright, D.G. 1989. Drying Process.

In:Arno P. Schniewind, Robert W. Cahn dan Michael B. Bever (Eds.), Conc

ise Encyclopedia of Wood & Wood-Based Materials,. Pergamon Press,Oxford, England. Budianto, A. Dodong. 1996. Sistem Pengeringan Kayu. Penerbit Kanisius, Semarang. Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood; Structure, Properties, Utilization. Van NostrandReinhold, New York. Wood Handbook. Wood as an Engineering. 1999. Forest Product Laboratory.

 

 

 

 

 

 

 

 

ANALISIS PERCEPATAN WAKTU DAN BIAYA PROYEK DENGAN MENGGUNAKAN METODE CRASHING

ABSTRAK

               Analisis waktu dan biaya pelaksanaan proyek merupakan unsur penting dalam pelaksanaan suatu proyek, terjadinya keterlambatan dalam suatu pelaksanaan proyek akan menyebabkan pembiayaan melampaui batas anggaran yang direncanakan, bila jadwal dan waktu tidak terkendali sebagaimana mestinya maka akan merugikan berbagai pihak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari waktu pelaksanaan konstruksi yang optimal dan mengevaluasi biaya atau dana pelaksanaan konstruksi dalam kaitannya dengan waktu pelaksanaan yang telah dioptimalkan pada pelaksanaan pembangunan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Tahap IV P4TK / VEDC Malang Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis adalah dengan menggunakan metode Crashing,  Kurva S, Diagram batang atau Gant Chart. Pada pelaksanaan pembangunan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Tahap IV P4TK /VEDC Malang terjadi percepatan waktu pelaksanaan proyek sehingga terjadi pengurangan biaya dari anggaran yang sudah direncanakan. Konsep nilai hasil atau yang lebih dikenal dengan earned value method, yang secara umum dapat juga dikenal sebagai teknik integritas biaya dan waktu, mempunyai konsep dasar tentang penilaian progres pelaksanaan lapangan dengan skala yang terdiri dari dua variabel yaitu biaya dan waktu  sehingga dari hasil penelitian terjadi selisih biaya sebesar Rp 51.793.943.77  yang didapat dari rencana anggaran semula sebesar Rp 958.990.797.23 menjadi Rp 1.010.784.741.00 . Berdasarkan perhitungan waktu didapatkan perkiraan waktu total proyek adalah 213 hari. Sedangkan menurut rencana sesuai dengan schedule selesainya proyek adalah 303 hari, sehingga terjadi percepatan waktu sebesar 90 hari dari rencana semula.

Kata kunci : biaya dan konsep nilai hasil, percepatan, waktu pelaksanaan

       Pada industri konstruksi ketentuan mengenai biaya, mutu dan waktu penyelesaian pekerjaan konstruksi sudah terikat di dalam kontrak dan ditetapkan sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi dikerjakan. Seperti diketahui, waktu penyelesaian yang dibutuhkan untuk proses pekerjaan konstruksi selalu dicantumkan dalam dokumen kontrak karena akan berpengaruh penting terhadap nilai pelelangan dan pembiayaan pekerjaannya sendiri.

Waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang tidak terkendali  sebagaimana mestinya akan dapat menyebabkan pemilik akan mengalami kesulitan biaya dalam penyelesaian pekerjaan suatu proyek, demikian pula dengan kontraktor akan dapat mengalami kerugian biaya sehingga kontraktor dalam hal ini harus selalu berusaha untuk mengendalikan waktu pelaksanaan  yang dituangkan dalam jadwal rencana kerja yang telah ditentukan, dalam proses pekerjaan konstruksi tanpa mengabaikan pengendalian mutu. Waktu, biaya dan mutu ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan .

Rangkaian dalam kegiatan konstruksi adalah saling berurutan dan saling berkaitan. Dalam perencanaan suatu proyek, seorang pengambil keputusan seringkali dihadapkan pada suatu pilihan dalam menetapkan sumber daya yang tepat, misalnya jumlah tenaga kerja, peralatan, metode dan teknologi untuk melaksanakan suatu kegiatan proyek konstruksi.

Setiap pemilihan aktivitas yang ditetapkan akan bermuara pada waktu, biaya, dan mutu dari suatu kegiatan proyek. Untuk proyek konstruksi pada umumnya mutu merupakan elemen yang harus tetap dipertahankan agar selalu sesuai dengan perencanaan, sedangkan apabila terjadi adanya keterlambatan waktu pelaksanaan proyek atau karena atas permintaan dari owner/pemilik proyek untuk mempersingkat waktu pelaksanaannya, maka perlu dilakukan usaha percepatan waktu pelaksanaan proyek.

Pelaksanaan 35 Proyek Pemerintah Mengalami Keterlambatan Serius. Lembaga donor yang tergabung dalam CGI, seperti Bank Dunia, ADB, JBIC menemukan adanya 35 proyek yang dimonitor Bappenas menglami keterlambatan serius dalam pelaksanaannya. Keterlambatan tersebut selain disebabkan keterlambatan penerbitan dokumen anggaran pengeluaran pembangunan, masalah pembebasan tanah, tidak mencukupinya dana pendamping dalam bentuk rupiah, lemahnya manajemen proyek, jaminan simpanan (backlog) yang cukup tinggi, dan adanya penolakan sebagian masyarakat di beberapa daerah. Proyek Departemen Kimpraswil yang mengalami keterlambatan serius antara lain Segara Anakan Conservation & Development Project, Northern Sumatera Irrigation Agricultural Sector (ADB) dan Bili-Bili Irrigation (JBIC), Kompas, 2003.

 Dengan perencanaan yang tepat, maka seluruh kegiatan proyek dapat dimulai  dan selesai pada waktu yang secepatnya dengan alokasi waktu yang cukup, dengan biaya yang serendah mungkin, serta dengan mutu yang dapat diterima.

1. Kurva S Sebagai Pengendali Proyek

       Curve S dapat dimanfaatkan untuk mengungkapkan secara grafis arus kas pembiayaan suatu proyek konstruksi. Hal tersebut dimungkinkan karena lazimnya pembiayaan pembayaran untuk kontraktor didasarkan pada prestasi kemajuan pekerjaan, baik secara berkala bulanan/persentase prestasi.

 

Arus kas pembiayaan konstruksi dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Arus kas pembiayaan konstruksi (Dipohusodo, 1996)

Untuk mendapatkan kemajuan pekerjaan menurut curve (a), kontraktor harus mampu membiayai kegiatannya terlebih dahulu sesuai curve (b), selanjutnya dilakukan realisasi pembayaran kepada kontraktor yang pada gambar diestimasikan sesuai dengan curve (c).

Ada 2 cara pengolahan jadwal pekerjaan proyek (Badri, 1991), yaitu :

a. Network Planning

Sistem ini dimaksudkan untuk merencanakan dan mengendalikan sejumlah besar kegiatan yang memiliki hubungan ketergantungan kompleks dalam masalah design-engineering, konstruksi, dan pemeliharaan. Usaha-usaha ditekankan untuk mencari metode yang dapat memperkecil biaya dalam hubungannya dengan kurun waktu penyelesaian suatu kegiatan.

b. Bar Chart

Diagram balok/bar chart disusun dengan maksud mengidentifikasi unsur waktu dan urutan dalam merencanakan suatu kegiatan, yang terdiri dari saat mulai dan saat penyelesaian. Agar ukuran yang digunakan untuk setiap pekerjaan dalam menghitung bobot sama, maka satuan tiap pekerjaan dinyatakan dalam satuan uang (rupiah).

2. Jalur Kritis

       Untuk menentukan kegiatan yang bersifat kritis, dan kemudian menentukan jalur kritis, dapat dilakukan hitungan ke depan (Forward Analysis) dan hitungan ke belakang (Backward Analysis). Hitungan ke depan (Forward Analysis) dilakukan untuk mendapatkan besarnya Earliest Start (ES) dan Earliest Finish (EF). Sebagai kegiatan predecessor adalah kegiatan i, sedangkan kegiatan yang dianalisis adalah kegiatan j, (Bennett, 1996).

Besarnya ESjdan EFj dihitung sebagai berikut :

 ESj = ESi + SSij atau

ESj  = EFi + FSij                                                                     (1)                    

EFj = ESi + SFij atau Efj = EFi + FFij atau ESj + Dj               (2)

Catatan :

a. Jika ada Iebih dan satu anak panah yang masuk dalam suatu kegiatan, maka diambil nilai terbesar.

b. Jika tidak ada diketahui FSij atau SSijdan kegiatan non splitable, maka ESj dihitung dengan cara berikut:

ESj = EFj – Dj                                                                         (3)                                                    

Perhitungan ke belakang (Backward Analysis) dilakukan untuk mendapatkan besarnya Latest Start (LS) dan Latest Finish (LF), sebagai kegiatan successor adalah kegiatan j sedangkan kegiatan yang dianalisis adalah kegiatan i.

Besarnya nilai LSjdan LFjdihitung sebagai berikut:

 LFi = LFj -  EFij atau

LFi =  LSj – FSij                                                                      (4)

 LSi = LSj - SSij atau

LSj =  LFj -  SFij atau LFi – Di                                                 (5)

 

Catatan :

a. Jika ada lebih dari satu anak panah yang masuk dalam suatu kegiatan, maka   diambil nilai terkecil.

b. Jika tidak ada diketahui FFijatau FSijdan kegiatan non splitable, maka LFjdihitung dengan cara berikut:

LFj = Lsi – Di                                                                           (6)                                                                   

Jalur kritis ditandai oleh beberapa keadaan sebagai berikut:

 ES = LS                                                                                  (7)

 SF = LF                                                                                  (8)

 LF - ES = Durasi kegiatan                                                      (9)

 

3. Metode Percepatan Proyek

        Untuk mempercepat pelaksanaan proyek dilapangan ada beberapa metode yang bisa digunakan yaitu :

Ø Metode Crashing

Ø TCTO (Time Cost Trade Of Analysis)

Ø Metode Fast Track

Ø Metode Least Cost Analysis

 

a.    Metode Crashing

            Kondisi yang paling sering di alami pada suatu proyek konstruksi adalah terbatasnya waktu pelaksanaan. Berdasarkan kenyataan yang ada dilapangan, sering terjadi perpanjangan waktu pelaksanaan akibat kurang cermatnya perencanaan, kurang rapinya manajemen pelaksanaan, kurang logis dan realitisnya hubungan antar aktivitas yang membawa dampak perpanjangan waktu serta membengkaknya biaya penyelesaian proyek.

     Dasar pertimbangan seorang manajer proyek dalam memutuskan  percepatan waktu dengan menggunakan  metode crashing adalah sebagai berikut :

a)    Waktu pelaksanaan proyek yang sudah terlambat dari jadwal semula,  sehingga perlu dilakukan percepatan waktu.

b)    Waktu proyek normal dipercepat dengan menerapkan metode Crashing agar waktu penyelesaian lebih awal untuk meningkatkan performance dan profil dari pengembang/kontraktor.

Cara crashing hampir selalu berarti peningkatan biaya. Pertambahan biaya yang diakibatkan percepatan waktu/crashing adalah jumlah biaya langsung untuk menyelesaikan atau melaksanakan kegiatan dengan durasi yang dipercepat.

     Project crashing ini melibatkan empat langkah yaitu :

1.    Tentukan critical path normal dan identifikasi aktivitas kritis.

 

2.    Hitung crash cost per periode untuk seluruh aktivitas dalam jaringan proyek (dengan asumsi bahwa crash cost bersifat linier), rumus yang digunakan adalah :

      

 

1.               3. Pilih aktivitaspada jalur kritis yang memililki crash cost/periode minimum.                    Percepat aktivitas tersebut semaksimal mungkin atau sesuaikan dengan                     batas waktu yang diinginkan.

2.                      4. Periksalah, apakah aktivitas yang dipercepat tersebut masih merupakan                     aktivitas kritis. Seringkali, percepatan pada jalur kritis dapat menyebabkan                  jalur lain yang tidak kritis menjadi jalur kritis. Apabila jalur kritis tersebut                       masih tetap menjadi jalur terpanjang, maka ulangi langkah 3, jika tidak                        tentukan jalur kritis baru dan ulangi langka 3.

Metode Penelitian

     Pada penelitian ini menggunakan dengan metode deskriptif yaitu pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif (Whitney 1960).

Pembahasan

   a. Analisa Jaringan (Network Analysis)

         Untuk mengontrol atau mengendalikan suatu kegiatan proyek bisa dilakukan dengan menggunakan Kurve S, sehingga dengan menggunakan Kurve S diharapkan kegiatan proyek bisa selesai sesuai dengan waktu yang direncanakan. Namun demikian untuk lebih teliti lagi dalam mengontrol kegiatan proyek tersebut bisa dibuat analisa jaringan atau jaringan kerja, karena dengan adanya jaringan kerja maka pelaksana bisa mengetahui mana pekerjaan yang harus didahulukan atau diprioritaskan.

            Pada umumnya jaringan kerja hanya dibuat oleh kontraktor yang berskala Nasional atau Internasional, sedangkan untuk kontraktor kecil atau kontraktor daerah cukup menggunakan dengan kurva S saja. Pembuatan jaringan kerja dalam pelaksanaan pembangunan gedung diklat ini dibuat  dari master schedule pelaksanaan yang ada dari kontraktor menjadi diagram batang (Gant Chart), kemudian dijabarkan kedalam analisa jaringan.

        b. Mencari Jalur Kritis.

Jalur kritis dapat dicari dengan terlebih dahulu menghitung ealiest start time (ES), latest start (LS), earliest finish (EF) dan latest finish (LF).

- ES adalah waktu memulai suatu pekerjaan yang tercepat tanpa harus mengganggu penyelesaian pekerjaan yang mendahuluinya,

- EF adalah waktu menyelesaikan suatu pekerjaan yang tercepat,

- LS adalah waktu yang paling lambat untuk memulai suatu pekerjaan tanpa harus menunda waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan,

- LF adalah waktu yang paling lambat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tanpa harus menunda waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan.

• Aturan dalam menghitung ES dan EF:

Hanya ada satu basis aturan untuk menghitung ES dan EF, yaitu : sebelum suatu pekerjaan dapat dimulai, seluruh pekerjaan yang mendahuluinya harus telah diselesaikan. Dengan kata lain, mencari jalur terpanjang dalam setiap aktivitas dapat menentukan ES. EF dihitung dengan formula :

EF = ES + t

Untuk menghitung ES dan EF seluruh pekerjaan, dimulai dari awal sampai ke akhir proyek (forward pass).

 

Kesimpulan

     Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data tentang percepatan waktu dan biaya dalam pembangunan gedung pendidikan dan pelatihan P4TK / VEDC Malang tahap 4 dengan metode crashing maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Perencanaan waktu pelaksanaan proyek pembanguanan gedung pendidikan dan pelatihan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan / P4TK Malang selama 24 minggu, sedangkan waktu pelaksanaan dilapangan (existing) selama 21 minggu dan setelah dipercepat dengan metode crashing menjadi 17 minggu atau setara dengan 117 hari. Selisih antara waktu perencanaan dengan waktu percepatan adalah 29,16% sedangkan selisih antara waktu pelaksanaan (existing) dengan waktu percepatan adalah 19,05%.
  2. Perencanaan biaya pelaksanaan proyek pembanguanan gedung pendidikan dan pelatihan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan / P4TK Malang selama 21 minggu adalah Rp 958.990.793,- sedangkan biaya percepatan selama 17 minggu adalah Rp 966.635.861,- sehingga setelah dilakukan percepatan pada lintasan kritis terjadi selisih antara biaya perencanaan dengan biaya percepatan sebesar Rp 7.645.064,- atau ada kenaikan biaya 0,79%.
  3. Berdasarkan hitungan konsep nilai hasil (earned value) diketahui curve S biaya progres berada diatas biaya aktual pekerjaan dan curve S biaya pekerjaan sesuai dengan rencana, maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan atau pelaksanaan proyek pembangunan gedung pendidikan dan pelatihan pada Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan / P4TK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang tidak mengalami keterlambatan maupun pertambahan biaya. Indek kinerja jadwal pada minggu pertama sampai dengan minggu ke sepuluh sesuai dengan rencana yaitu lebih dari 1.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alifen, R, S., Analisa ”What If” Sebagai Metode Antisipasi Keterlambatan Durasi  Proyek, http://puslit.petra.ac.id/journal/civil.

Badri, S., 1991, Dasar-dasar Network Planning, Penerbit Renika Cipta, Yogyakarta.

Dipohusodo, I., 1996, Manajemen Proyek dan Konstruksi, Cetakan kedua, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Ervianto, W.I., 2004, Manajemen Proyek Konstruksi, Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Harold, K., Ninth Edition., Project Management A Systems Approach to Planning, Scheduling, and Controlling, John Wiley & Sons, Inc.

Hartono, H, 2005, Analisis Percepatan Waktu dan Biaya Pada Pembangunan Gedung FKIP UMS dengan Presedence Diagram Method, dinamika TEKNIK SIPIL, Volume 5, Nomor 1, Januari.

Imam, K., Operation Management,http://elearning.unej.ac.id.

Kompas, 2003, Kreditor CGI : Pelaksanaan 35 Proyek Pemerintah Mengalami  Keterlambatan Serius.

Nasmul Islam, M, dkk, 2004, Crashing Project Time with Least Cost : A Linear Programming Approach, Journal of Business Research, Volume 6.

 

Nazir, M., 2005,  Metode Penelitian, Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor.

CARA MENYETEL KATUP

Cara Menyetel Celah Katup

 

Ditulis oleh: Mochamad Wahyudi  (Widyaiswara PPPPTK BOE Malang)

 

 

 

Pengertian

 

 

 

Katup adalah salah satu komponen yang sangat vital dalam mesin kendaraan bermotor.

 

Katup yang bahasa inggrisnya biasa disebut  dengan valve ini digunakan untuk menghisap bahan bakar baru kedalam mesin kendaraan dan membuang sisa-sisa pembakaran yang ada dalam ruang bakar ke udara luar melalui saluran pembuangan kendaraan.

 

 

 

Mengapa Celah Katup Perlu Di Setel

 

 

 

Setelah mesin mobil difungsikan kurang lebih 20000 km, katup dan mekanismenya dapat mengalami keausan, akibatnya akan mempengaruhi ukuran standar celah katupnya.Perubahan ukuran ini akan berpengaruh pada sistem pemasukan bahan bakar baru dan pembuangan sisa-sisa pembakaran di ruang bakar.Apabila keadaan ini dibiarkan bisa mengurangi kemampuan motor (daya motor turun).

 

Terkait dengan hal tersebut ada beberapa alasan mengapa celah katup perlu untuk disetel, yaitu:

 

 

 

Mengacu pada adanya penyebaran panas (pemuaian), maka pada rocker arm dan ujung batang katup harus terdapat celah katup. Kalau celah katup terlalu longgar atau terlalu sempit, maka akan timbul masalah seperti halnya sebagai berikut: 

 

a. Jika celah katup terlalu sempit, maka katup akan membuka terlalu awal dan menutup dengan lambat, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya salah pengapian.

 

b. Jika celahnya terlalu longgar, maka katup akan membuka terlambat dan menutup terlalu cepat, sehingga dapat menimbulkan suara berisik .

 

 

 

Karena perannya yang penting, maka dalam menyetel celah katup harus benar, jika tidak maka akan menimbulkan masalah-masalah seperti diatas, dan tentunya umur dari mesin menjadi lebih pendek. Langsung saja kita bahas bagaimana cara menyetel celah katup. Sebelum itu, hendaknya anda menyiapkan peralatan yang akan digunakan:

 


1. Tool box  lengkap (obeng minus/plus, kunci ring)
2. Kunci busi
3. Kunci T 12
4. Feeler gauge
5. Majun
6. Buku manual

 

 

 

Langkah-Langkah Penyetelan Katup

 

1A. Overhead valve

 

Sebelumnya perlu diperhatikan, bahwa tutorial ini dilakukan pada mesin Toyota Kijang 5K dengan mekanisme katup seperti gambar diatas (OHV), dan FO 1-3-4-2. Namun, anda tidak perlu khawatir jika mobil anda berbeda jenis, karena tutorial  ini menerangkan tentang konsep dasar cara menyetel katup secara umum, jadi untuk jenis mesin dan mekanisme katup yang berbeda dapat menyesuaikan.

 

 

 

A. Persiapan

 

  1. Siapkan unit ( mesin), alat dan bahan yang diperlukan.
  2. Periksalah oli mesin, air radiator dan bahan bakar.
  3. Hidupkan mesin untuk pemanasan kurang lebih 5 menit.
  4. Membuka cover kepala silinder.

 

 

 

B. Cara Menyetel Celah Katup

 

1. Putar poros engkol hingga tanda pada puli poros engkol tepat dengan angka 0 pada tutup rantai timing.

 

 

1B. Memutar puli poros engkol

 

 

2. Menentukan top kompresi silinder 1 atau 4, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

 

a) Pada saat memutar poros engkol sambil memperhatikan katup masuk silinder mana yang bergerak. Lihatlah katup masuk atau push rod katup masuk pada silinder 1 atau 4 sambil menggerak-gerakkan puli poros engkol.

 

b) Apabila yang bergerak push rod katup masuk silinder 4 pada saat anda menggerak-gerakkan atau memutar poros engkol, berarti ketika tanda pada puli tepat dengan tanda 0 : yang sedang mengalami top kompresi adalah silinder 1, sedang silinder 4 overlaping Begitu juga sebaliknya.

 

 

3. Menentukan katup-katup yang boleh distel pada saat top kompresi silinder 1 atau 4. Caranya dengan melihat diagram/tabel proses kerja silinder atau bisa juga dengan menggerak-gerakkan puli poros engkol sambil melihat push rod katup yang tidak bergerak. Push rod yang tidak bergerak maka boleh disetel.

 

1C. TOP kompresi silinder 1

 

4. Setel celah katup sesuai spesifikasi. Penyetelan dilakukan dengan cara:

 

a) Mengendorkan mur 12 menggunakan kunci ring 12.

 

b) Menempatkan atau memasukkan feeler gauge sesuai ukuran standar ke dalam celah antara rocker arm dengan batang katup.

 

c) Melakukan penyetelan dengan mengubah (mengencangkan/mengendorkan) baut penyetel dengan obeng.

 

d) Setelah celah katup telah benar/sesuai, kencangkan mur penahan sambil menahan baut penyetel agar tidak bergerak. Lalu cek kembali celah katup dengan merasakan tarikan/gesekan dari feeler gauge. Ulangi cara tersebut jika belum menemukan kesesuaian.

 

 

 

5. Putar poros engkol 1 putaran (360°) sehingga tanda pada puli bertepatan dengan tanda 0 pada tutup rantai timing.

 

6. Menyetel celah katup untuk katup-katup yang belum disetel sesuai spesifikasi.

 

7. Coba hidupkan mesin, apakah sudah halus atau belum? Jika sudah maka anda berhasil.

 

7. Menutup kembali kepala silinder, lalu memasang komponen lainnya.

 

8. Bersihan objek kerja, alat, dan juga tempat kerja.

 

 

 Kesalahan yang Sering Terjadi

 

1. Salah menentukan top kompresi silinder.

 

2. Salah menentukan katup yang boleh disetel.

 

3. Salah dalam menggunakan feeler gauge.

 

4. Piston lupa dan belum ditopkan.

 

5. Celah terlalu kendor atau terlalu rapat

 

6. Mur penahan baut penyetel kendor

 

 

ANALISIS PERCEPATAN WAKTU DAN BIAYA PROYEK DENGAN MENGGUNAKAN METODE CRASHING

ABSTRAK

               Analisis waktu dan biaya pelaksanaan proyek merupakan unsur penting dalam pelaksanaan suatu proyek, terjadinya keterlambatan dalam suatu pelaksanaan proyek akan menyebabkan pembiayaan melampaui batas anggaran yang direncanakan, bila jadwal dan waktu tidak terkendali sebagaimana mestinya maka akan merugikan berbagai pihak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari waktu pelaksanaan konstruksi yang optimal dan mengevaluasi biaya atau dana pelaksanaan konstruksi dalam kaitannya dengan waktu pelaksanaan yang telah dioptimalkan pada pelaksanaan pembangunan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Tahap IV P4TK / VEDC Malang Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis adalah dengan menggunakan metode Crashing,  Kurva S, Diagram batang atau Gant Chart. Pada pelaksanaan pembangunan Gedung Pendidikan dan Pelatihan Tahap IV P4TK /VEDC Malang terjadi percepatan waktu pelaksanaan proyek sehingga terjadi pengurangan biaya dari anggaran yang sudah direncanakan. Konsep nilai hasil atau yang lebih dikenal dengan earned value method, yang secara umum dapat juga dikenal sebagai teknik integritas biaya dan waktu, mempunyai konsep dasar tentang penilaian progres pelaksanaan lapangan dengan skala yang terdiri dari dua variabel yaitu biaya dan waktu  sehingga dari hasil penelitian terjadi selisih biaya sebesar Rp 51.793.943.77  yang didapat dari rencana anggaran semula sebesar Rp 958.990.797.23 menjadi Rp 1.010.784.741.00 . Berdasarkan perhitungan waktu didapatkan perkiraan waktu total proyek adalah 213 hari. Sedangkan menurut rencana sesuai dengan schedule selesainya proyek adalah 303 hari, sehingga terjadi percepatan waktu sebesar 90 hari dari rencana semula.

Kata kunci : biaya dan konsep nilai hasil, percepatan, waktu pelaksanaan

       Pada industri konstruksi ketentuan mengenai biaya, mutu dan waktu penyelesaian pekerjaan konstruksi sudah terikat di dalam kontrak dan ditetapkan sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi dikerjakan. Seperti diketahui, waktu penyelesaian yang dibutuhkan untuk proses pekerjaan konstruksi selalu dicantumkan dalam dokumen kontrak karena akan berpengaruh penting terhadap nilai pelelangan dan pembiayaan pekerjaannya sendiri.

Waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang tidak terkendali  sebagaimana mestinya akan dapat menyebabkan pemilik akan mengalami kesulitan biaya dalam penyelesaian pekerjaan suatu proyek, demikian pula dengan kontraktor akan dapat mengalami kerugian biaya sehingga kontraktor dalam hal ini harus selalu berusaha untuk mengendalikan waktu pelaksanaan  yang dituangkan dalam jadwal rencana kerja yang telah ditentukan, dalam proses pekerjaan konstruksi tanpa mengabaikan pengendalian mutu. Waktu, biaya dan mutu ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan .

 

Rangkaian dalam kegiatan konstruksi adalah saling berurutan dan saling berkaitan. Dalam perencanaan suatu proyek, seorang pengambil keputusan seringkali dihadapkan pada suatu pilihan dalam menetapkan sumber daya yang tepat, misalnya jumlah tenaga kerja, peralatan, metode dan teknologi untuk melaksanakan suatu kegiatan proyek konstruksi.

Setiap pemilihan aktivitas yang ditetapkan akan bermuara pada waktu, biaya, dan mutu dari suatu kegiatan proyek. Untuk proyek konstruksi pada umumnya mutu merupakan elemen yang harus tetap dipertahankan agar selalu sesuai dengan perencanaan, sedangkan apabila terjadi adanya keterlambatan waktu pelaksanaan proyek atau karena atas permintaan dari owner/pemilik proyek untuk mempersingkat waktu pelaksanaannya, maka perlu dilakukan usaha percepatan waktu pelaksanaan proyek.

Pelaksanaan 35 Proyek Pemerintah Mengalami Keterlambatan Serius. Lembaga donor yang tergabung dalam CGI, seperti Bank Dunia, ADB, JBIC menemukan adanya 35 proyek yang dimonitor Bappenas menglami keterlambatan serius dalam pelaksanaannya. Keterlambatan tersebut selain disebabkan keterlambatan penerbitan dokumen anggaran pengeluaran pembangunan, masalah pembebasan tanah, tidak mencukupinya dana pendamping dalam bentuk rupiah, lemahnya manajemen proyek, jaminan simpanan (backlog) yang cukup tinggi, dan adanya penolakan sebagian masyarakat di beberapa daerah. Proyek Departemen Kimpraswil yang mengalami keterlambatan serius antara lain Segara Anakan Conservation & Development Project, Northern Sumatera Irrigation Agricultural Sector (ADB) dan Bili-Bili Irrigation (JBIC), Kompas, 2003.

 

 Dengan perencanaan yang tepat, maka seluruh kegiatan proyek dapat dimulai  dan selesai pada waktu yang secepatnya dengan alokasi waktu yang cukup, dengan biaya yang serendah mungkin, serta dengan mutu yang dapat diterima.

 1. Kurva S Sebagai Pengendali Proyek

       Curve S dapat dimanfaatkan untuk mengungkapkan secara grafis arus kas pembiayaan suatu proyek konstruksi. Hal tersebut dimungkinkan karena lazimnya pembiayaan pembayaran untuk kontraktor didasarkan pada prestasi kemajuan pekerjaan, baik secara berkala bulanan/persentase prestasi.

Arus kas pembiayaan konstruksi dapat dilihat pada Gambar 1.

 

Gambar 1. Arus kas pembiayaan konstruksi (Dipohusodo, 1996)

Untuk mendapatkan kemajuan pekerjaan menurut curve (a), kontraktor harus mampu membiayai kegiatannya terlebih dahulu sesuai curve (b), selanjutnya dilakukan realisasi pembayaran kepada kontraktor yang pada gambar diestimasikan sesuai dengan curve (c).

Ada 2 cara pengolahan jadwal pekerjaan proyek (Badri, 1991), yaitu :

a. Network Planning

Sistem ini dimaksudkan untuk merencanakan dan mengendalikan sejumlah besar kegiatan yang memiliki hubungan ketergantungan kompleks dalam masalah design-engineering, konstruksi, dan pemeliharaan. Usaha-usaha ditekankan untuk mencari metode yang dapat memperkecil biaya dalam hubungannya dengan kurun waktu penyelesaian suatu kegiatan.

b. Bar Chart

Diagram balok/bar chart disusun dengan maksud mengidentifikasi unsur waktu dan urutan dalam merencanakan suatu kegiatan, yang terdiri dari saat mulai dan saat penyelesaian. Agar ukuran yang digunakan untuk setiap pekerjaan dalam menghitung bobot sama, maka satuan tiap pekerjaan dinyatakan dalam satuan uang (rupiah).

2. Jalur Kritis

       Untuk menentukan kegiatan yang bersifat kritis, dan kemudian menentukan jalur kritis, dapat dilakukan hitungan ke depan (Forward Analysis) dan hitungan ke belakang (Backward Analysis). Hitungan ke depan (Forward Analysis) dilakukan untuk mendapatkan besarnya Earliest Start (ES) dan Earliest Finish (EF). Sebagai kegiatan predecessor adalah kegiatan i, sedangkan kegiatan yang dianalisis adalah kegiatan j, (Bennett, 1996).

Besarnya ESjdan EFj dihitung sebagai berikut :

 ESj = ESi + SSij atau

ESj  = EFi + FSij                                                                     (1)                    

EFj = ESi + SFij atau Efj = EFi + FFij atau ESj + Dj               (2)

Catatan :

a. Jika ada Iebih dan satu anak panah yang masuk dalam suatu kegiatan, maka diambil nilai terbesar.

b. Jika tidak ada diketahui FSij atau SSijdan kegiatan non splitable, maka ESj dihitung dengan cara berikut:

ESj = EFj – Dj                                                                         (3)                                                    

Perhitungan ke belakang (Backward Analysis) dilakukan untuk mendapatkan besarnya Latest Start (LS) dan Latest Finish (LF), sebagai kegiatan successor adalah kegiatan j sedangkan kegiatan yang dianalisis adalah kegiatan i.

Besarnya nilai LSjdan LFjdihitung sebagai berikut:

 LFi = LFj -  EFij atau

LFi =  LSj – FSij                                                                      (4)

 LSi = LSj - SSij atau

LSj =  LFj -  SFij atau LFi – Di                                                 (5)

 

Catatan :

a. Jika ada lebih dari satu anak panah yang masuk dalam suatu kegiatan, maka   diambil nilai terkecil.

 

b. Jika tidak ada diketahui FFijatau FSijdan kegiatan non splitable, maka LFjdihitung dengan cara berikut:

LFj = Lsi – Di                                                                           (6)                                                                   

Jalur kritis ditandai oleh beberapa keadaan sebagai berikut:

 ES = LS                                                                                  (7)

 SF = LF                                                                                  (8)

 LF - ES = Durasi kegiatan                                                      (9)

 

3. Metode Percepatan Proyek

        Untuk mempercepat pelaksanaan proyek dilapangan ada beberapa metode yang bisa digunakan yaitu :

Ø Metode Crashing

Ø TCTO (Time Cost Trade Of Analysis)

Ø Metode Fast Track

Ø Metode Least Cost Analysis

 

a.    Metode Crashing

            Kondisi yang paling sering di alami pada suatu proyek konstruksi adalah terbatasnya waktu pelaksanaan. Berdasarkan kenyataan yang ada dilapangan, sering terjadi perpanjangan waktu pelaksanaan akibat kurang cermatnya perencanaan, kurang rapinya manajemen pelaksanaan, kurang logis dan realitisnya hubungan antar aktivitas yang membawa dampak perpanjangan waktu serta membengkaknya biaya penyelesaian proyek.

     Dasar pertimbangan seorang manajer proyek dalam memutuskan  percepatan waktu dengan menggunakan  metode crashing adalah sebagai berikut :

a)    Waktu pelaksanaan proyek yang sudah terlambat dari jadwal semula,  sehingga perlu dilakukan percepatan waktu.

b)    Waktu proyek normal dipercepat dengan menerapkan metode Crashing agar waktu penyelesaian lebih awal untuk meningkatkan performance dan profil dari pengembang/kontraktor.

Cara crashing hampir selalu berarti peningkatan biaya. Pertambahan biaya yang diakibatkan percepatan waktu/crashing adalah jumlah biaya langsung untuk menyelesaikan atau melaksanakan kegiatan dengan durasi yang dipercepat.

     Project crashing ini melibatkan empat langkah yaitu :

1.    Tentukan critical path normal dan identifikasi aktivitas kritis.

2.    Hitung crash cost per periode untuk seluruh aktivitas dalam jaringan proyek (dengan asumsi bahwa crash cost bersifat linier), rumus yang digunakan adalah :

     

3.  Pilih aktivitaspada jalur kritis yang memililki crash cost/periode minimum.

     percepat aktivitas tersebut semaksimal mungkin atau sesuaikan dengan

     batas waktu yang diinginkan.

4. Periksalah, apakah aktivitas yang dipercepat tersebut masih merupakan  

     aktivitas kritis. Seringkali, percepatan pada jalur kritis dapat menyebabkan

     jalur lain yang tidak kritis menjadi jalur kritis. Apabila jalur kritis tersebut

     masih tetap menjadi jalur terpanjang, maka ulangi langkah 3, jika tidak

     tentukan jalur kritis baru dan ulangi langka 3.

 

Metode Penelitian

     Pada penelitian ini menggunakan dengan metode deskriptif yaitu pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif (Whitney 1960).

Pembahasan

   a. Analisa Jaringan (Network Analysis)

         Untuk mengontrol atau mengendalikan suatu kegiatan proyek bisa dilakukan dengan menggunakan Kurve S, sehingga dengan menggunakan Kurve S diharapkan kegiatan proyek bisa selesai sesuai dengan waktu yang direncanakan. Namun demikian untuk lebih teliti lagi dalam mengontrol kegiatan proyek tersebut bisa dibuat analisa jaringan atau jaringan kerja, karena dengan adanya jaringan kerja maka pelaksana bisa mengetahui mana pekerjaan yang harus didahulukan atau diprioritaskan.

            Pada umumnya jaringan kerja hanya dibuat oleh kontraktor yang berskala Nasional atau Internasional, sedangkan untuk kontraktor kecil atau kontraktor daerah cukup menggunakan dengan kurva S saja. Pembuatan jaringan kerja dalam pelaksanaan pembangunan gedung diklat ini dibuat  dari master schedule pelaksanaan yang ada dari kontraktor menjadi diagram batang (Gant Chart), kemudian dijabarkan kedalam analisa jaringan.

        b. Mencari Jalur Kritis.

Jalur kritis dapat dicari dengan terlebih dahulu menghitung ealiest start time (ES), latest start (LS), earliest finish (EF) dan latest finish (LF).

- ES adalah waktu memulai suatu pekerjaan yang tercepat tanpa harus mengganggu penyelesaian pekerjaan yang mendahuluinya,

- EF adalah waktu menyelesaikan suatu pekerjaan yang tercepat,

- LS adalah waktu yang paling lambat untuk memulai suatu pekerjaan tanpa harus menunda waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan,

- LF adalah waktu yang paling lambat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan tanpa harus menunda waktu penyelesaian proyek secara keseluruhan.

• Aturan dalam menghitung ES dan EF:

Hanya ada satu basis aturan untuk menghitung ES dan EF, yaitu : sebelum suatu pekerjaan dapat dimulai, seluruh pekerjaan yang mendahuluinya harus telah diselesaikan. Dengan kata lain, mencari jalur terpanjang dalam setiap aktivitas dapat menentukan ES. EF dihitung dengan formula :

EF = ES + t

Untuk menghitung ES dan EF seluruh pekerjaan, dimulai dari awal sampai ke akhir proyek (forward pass).

 

Kesimpulan

     Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data tentang percepatan waktu dan biaya dalam pembangunan gedung pendidikan dan pelatihan P4TK / VEDC Malang tahap 4 dengan metode crashing maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Perencanaan waktu pelaksanaan proyek pembanguanan gedung pendidikan dan pelatihan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan / P4TK Malang selama 24 minggu, sedangkan waktu pelaksanaan dilapangan (existing) selama 21 minggu dan setelah dipercepat dengan metode crashing menjadi 17 minggu atau setara dengan 117 hari. Selisih antara waktu perencanaan dengan waktu percepatan adalah 29,16% sedangkan selisih antara waktu pelaksanaan (existing) dengan waktu percepatan adalah 19,05%.
  2. Perencanaan biaya pelaksanaan proyek pembanguanan gedung pendidikan dan pelatihan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan / P4TK Malang selama 21 minggu adalah Rp 958.990.793,- sedangkan biaya percepatan selama 17 minggu adalah Rp 966.635.861,- sehingga setelah dilakukan percepatan pada lintasan kritis terjadi selisih antara biaya perencanaan dengan biaya percepatan sebesar Rp 7.645.064,- atau ada kenaikan biaya 0,79%.
  3. Berdasarkan hitungan konsep nilai hasil (earned value) diketahui curve S biaya progres berada diatas biaya aktual pekerjaan dan curve S biaya pekerjaan sesuai dengan rencana, maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan atau pelaksanaan proyek pembangunan gedung pendidikan dan pelatihan pada Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan / P4TK Bidang Otomotif dan Elektronika Malang tidak mengalami keterlambatan maupun pertambahan biaya. Indek kinerja jadwal pada minggu pertama sampai dengan minggu ke sepuluh sesuai dengan rencana yaitu lebih dari 1.

DAFTAR PUSTAKA

Alifen, R, S., Analisa ”What If” Sebagai Metode Antisipasi Keterlambatan Durasi  Proyek, http://puslit.petra.ac.id/journal/civil.

Badri, S., 1991, Dasar-dasar Network Planning, Penerbit Renika Cipta, Yogyakarta.

Dipohusodo, I., 1996, Manajemen Proyek dan Konstruksi, Cetakan kedua, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Ervianto, W.I., 2004, Manajemen Proyek Konstruksi, Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Harold, K., Ninth Edition., Project Management A Systems Approach to Planning, Scheduling, and Controlling, John Wiley & Sons, Inc.

Hartono, H, 2005, Analisis Percepatan Waktu dan Biaya Pada Pembangunan Gedung FKIP UMS dengan Presedence Diagram Method, dinamika

TEKNIK SIPIL, Volume 5, Nomor 1, Januari.

Imam, K., Operation Management,http://elearning.unej.ac.id.

Kompas, 2003, Kreditor CGI : Pelaksanaan 35 Proyek Pemerintah Mengalami  Keterlambatan Serius.

Nasmul Islam, M, dkk, 2004, Crashing Project Time with Least Cost : A Linear Programming Approach, Journal of Business Research, Volume 6.

Nazir, M., 2005,  Metode Penelitian, Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor.

Soeharto, I., 1999, Menejemen Proyek (Dari Konseptual Sampai Operasinal), Penerbit Erlangga, Jakarta.

Tjaturono, Nadjaji A. dan Indrasurya B. M., 2002, Penerapan Sistim Modul dan Metode Fast Track Sebagai Alternatif dalam Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Pembangunan Rumah Menengah, Proceeding Seminar Nasional Pascasarjana II ITS – 2002.

 

Triana, D., 2004, Analisis Metode Crashing Dalam Perencanaan Waktu Dan Biaya Proyek Konstruksi (Studi Kasus Proyek Pembangunan Jembatan Pasir Keranji Indragiri Hulu), Universitas Islam Indonesia,Yogyakarta.

Artikel Departemen

Artikel Departemen

Subcategories

Copyright 2017. Powered by Humas. PPPPTK BOE MALANG